bc

Ah! Faster Please, Tuan Mafia

book_age18+
14
IKUTI
1K
BACA
dark
contract marriage
family
fated
forced
decisive
mafia
gangster
bxg
city
office/work place
lies
friends with benefits
like
intro-logo
Uraian

"Ah! Faster please, Tuan Mafia!"

Biantara Narendra Tama adalah orang paling berpengaruh di balik bisnis ilegal di Ibukota.

Ia tidak percaya pada cinta karena trauma masa lalu. Namun, hidupnya berubah saat ia terpaksa bersembunyi di kamar Bianca, wanita yang sedang dijebak oleh mantan kekasihnya.

Pertemuan di malam itu membuat mereka terikat dalam situasi yang rumit. Ketika video pribadi mereka bocor dan membuat Bianca Isabella Claire diincar oleh musuh berbahaya, Biantara menawarkan pernikahan kontrak sebagai perlindungan.

Hubungan mereka yang seharusnya hanya formalitas justru berubah menjadi penuh gairah.

Biantara kini harus memilih, tetap menjadi pria dingin atau mempertaruhkan segalanya untuk melindungi Nona Claire-nya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bagian 1 - Ciuman dalam Kegelapan
"Ahh! Kamu mau apa Tuan Mafia?" serunya panik suaranya serak penuh getar. "Diam," desis pria itu dingin. "Uh itu terlalu besar ah! Aku nggak mau," protes Bianca. Namun pinggulnya menggeliat sendiri mencari gesekan. Pria itu mendengus rendah. "Sstt ... kamu terlalu berisik, Nona." "Ahh! Jangan ... Eum," Bianca mendesah saat bibir pria itu menelan protesnya dengan ciuman kasar. Tangan pria meremas paha Bianca kuat sambil menggesekkan tubuhnya lebih dalam. "Ahh! Terlalu dalam. Aku nggak tahan." Bianca melenguh keras pinggulnya mendesak ke bawah. "Kamu sudah basah sekali," kata pria itu datar tapi suaranya berat penuh nafsu. "Tubuhmu jujur Nona." "Ahh! Ah! Jangan berhenti!" Bianca hanya bisa mendesah liar tubuhnya gemetar hebat. Pria itu menekan lebih kuat menggoyang pinggulnya dengan ritme kasar. "Diam dan rasakan saja." "Ahh! Kamu. Terlalu kasar. Ah! Uh!" Bianca menjerit kecil tapi pinggulnya malah semakin mendesak. "Sstt. Kamu milikku sekarang," jawab pria itu dingin penuh nafsu sambil terus menindihnya tanpa ampun. Beberapa waktu yang lalu ... *** "Bianca, kamu nggak keberatan dengan soda, kan?" ujar Sinta, dia menyodorkan minuman berwarna kecoklatan itu pada Bianca, sahabatnya. "Makasih, Sin," jawab Bianca, santai. Ia menerima minuman itu dan meneguknya tanpa curiga. Keduanya sudah bersahabat cukup lama, sejak duduk di bangku SMP. "Masih banyak kerjaan kamu, Sin? Kenapa harus sewa kamar segala sih?" "Biar santai aja di sini, Bi, karna kamu tau kan tekanan kerja itu bikin frustrasi." Sinta mendengskus. "Kamu udah kelar?" "Udah nih, cuman segini yang harus aku kerjain? Ada lagi, nggak?" "Wah, cepat juga kerja kamu, Bi. Makasih, ya. Kamu ngebantu aku banget." Bianca tersenyum. "Sama-sama, kita kan teman, Sin." Mendadak kepala Bianca terasa pusing, lalu dia juga mulai agak mual. Bianca pun mengubah posisi duduknya dari santai menjadi tegap. "Sin, aku ke toilet bentar." "Oke." Bianca memuntahkan air dari mulutnya, tapi tidak keluar apa pun selain air soda yang tadi dia minum. Namun anehnya, kepalanya masih pusing, dan suhu tubuhnya meningkat. Bianca merasa gerah, padahal hotel itu suhunya dingin. "Sinta, kepalaku pusing banget. Apa aku salah makan, ya, tadi?" tanya Bianca lemas. Sinta menoleh ke arah Bianca yang baru keluar dari kamar mandi. "Pusing? Kayaknya kamu nggak makan apa-apa, deh. Mungkin kamu masuk angin, Bi. Mau aku ambilin obat?" Bianca menggelengkan kepala, "kamu tau aku nggak suka minum obat." "Ck. Aku lupa, Bi. Aneh sih, sakit harus minum obat dong." Sinta menggeleng. "Kamu istirahat dulu gih, di kamar aja." "Hem, ya udah deh. Aku masuk, ya. Kamu gapapa kan aku tinggal?" "Ya elah, Bi. Santai aja, kamu istirahat aja nanti mudah-mudahan baikan." Bianca mengangguk. Ia pun masuk ke kamar dan merebahkan tubunya di atas ranjang. "Uh, kenapa sih, kok aku kegerahan." Bianca yang masih memakai kemejanya, mulai melepas pakaiannya dan membiarkan hanya tertinggal tanktopnya yang tipis. "Nggak enak banget, panas, gerah. Ah..." Bianca menutup mulutnya, dia mulai merasa aneh. "Aku kenapa, sih?" Bianca mencoba memejamkan mata, tapi tubuhnya panas dan kepalanya masih agak pusing. "Umh, ah, Sayang, pelan-pelan." Samar-samar, ia mendengar suara Shinta di ruang tamu, tapi ada yang aneh dengan suara itu. "Kok kayak suara orang ciuman sih?" ucap Bianca, dia pun membulatkan mata. Jangan-jangan, Sinta bawa pacarnya, pikirnya. Bianca yang penasaran berusaha bangkit dan mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka. Di sofa ruang tamu, Sinta sedang berciuman panas dengan seorang pria. Bibir mereka saling melumat, tangan pria itu merengkuh pinggang Sinta dengan posesif. Wajah pria itu. Bianca mengenalnya terlalu baik. "R-Revan?" bisiknya hampir tak terdengar. Tangannya langsung membungkam mulut sendiri. "Kamu yakin Bianca tidak akan kenapa-napa?" tanya Sinta lirih. Revan tertawa pelan. "Tenang saja. Dia akan jadi milik orang kaya yang sangat kuat. Lagipula, ini cara paling gampang buat bungkam penagih utang yang terus menerorku." "Iya deh, jangan sampai di apa-apain ya. Kasian juga tahu," ucap Sinta tanpa beban. "Kasian?" Revan dengan santainya melumat bibir Sinta. "Kamu nih, nggak usah sok baik deh." Sinta tertawa kecil. "Sst, nanti Bianca denger." "Udah kamu kasih kan obatnya?" "Udah sih, ke sodanya tadi." Bianca melotot. Jadi, yang dia rasakan saat ini efek soda tadi? Apa yang Sinta masukkan ke dalamnya? "Bagus, bentar lagi juga dia kepanasan. Pasti yang bayar seneng banget, dapet perawan." Sinta tertawa lalu menutup mulut. "Udah ah, aku mau terima telepon." "Ya udah, aku pergi dulu ya. Kamu jaga Bianca." "Oke." Bianca lemas. Ia ingin berteriak, tapi tubuhnya benar-benar tidak bertenaga. Tak lama, Revan pergi. Sinta menerima panggilan telepon, lalu bergegas keluar kamar dengan terburu-buru. Bianca mencoba memaksakan diri bangun untuk mengejar Sinta, tapi kakinya terasa lumpuh. Ia jatuh tertidur di sofa ruang tamu dengan pintu yang masih sedikit terbuka. Di saat bersamaan, seorang pria muncul di koridor. Napasnya memburu, bajunya bersimbah darah setelah diserang musuh di lobi. Melihat pintu kamar yang terbuka, ia segera menerobos masuk dan mengunci pintu dengan kakinya. Ia tidak menyadari ada seorang wanita yang terbaring tak berdaya di sofa ruangan itu. Pria itu menyandarkan punggungnya di pintu yang baru saja ia kunci. Napasnya tersengal, dadanya naik turun dengan cepat. Darah segar merembes keluar dari luka di lengan kirinya, menetes ke lantai marmer yang bersih. Ia menoleh, matanya yang tajam menyapu seisi ruangan sampai pandangannya terkunci pada sosok di sofa. Seorang wanita terbaring di sana, hanya mengenakan tanktop tipis dan celana pendek. Kulitnya tampak memerah dan napasnya terdengar tidak beraturan. Pria itu terpaku sejenak, alisnya bertaut. Namun, suara langkah kaki yang berat dan gaduh terdengar dari koridor tepat di depan pintu. Mereka semakin dekat. Sial. Pria itu meringis saat lengannya berdenyut nyeri. Tiba-tiba, wanita di sofa itu menggeliat. Matanya terbuka perlahan, menatap pria asing yang bersimbah darah di depannya dengan pandangan kabur. "Siapa ... kamu?" bisik wanita itu. Suaranya serak dan bergetar. Suara langkah di luar pintu berhenti. Debuman keras menghantam pintu, disusul suara teriakan kasar dari para pengejarnya. Pria itu tidak punya waktu. Dengan gerakan cepat, ia melompat ke arah sofa dan menindih tubuh wanita itu, membungkam mulutnya dengan telapak tangan agar tidak berteriak. "Jangan bersuara," desis pria itu tajam. Wanita di bawahnya justru meracau tidak jelas. Napasnya yang hangat dan beraroma soda menerpa wajah pria itu. Anehnya, wanita itu justru melengkungkan punggungnya, mengeluarkan lenguhan lirih yang terdengar seperti desahan. "Ah..." Mata pria itu membelalak. Ia bisa merasakan panas tubuh wanita itu menembus pakaiannya. Di luar, suara orang menggedor pintu semakin menjadi-jadi. Pria itu tahu ia terpojok. Tanpa pikir panjang, demi membungkam suara wanita itu sekaligus menyembunyikan diri dari penglihatan orang di luar, ia menunduk dan mencium bibir wanita itu dengan kasar. Wanita itu tersentak, matanya membulat sempurna, namun tubuhnya justru lemas di bawah kurungan tubuh pria yang penuh darah tersebut.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.2K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
3.3K
bc

Kali kedua

read
221.8K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook