44. Perkara Selimut

1901 Kata

Suasana canggung antara aku dan Mas Dewa tak terelakkan lagi. Padahal kemarin-kemarin sudah agak lebih cair dan santai, tetapi kali ini mendadak tidak bisa. Bagaimana aku bisa santai kalau orang yang kuanggap sudah benar-benar asing, ternyata masih sah menjadi suamiku di mata agama dan negara? Negara, karena dia tidak pernah mengurus perkara ke pengadilan. Agama, karena dia tidak pernah mengucapkan kalimat talak dengan jelas. Harusnya memang belum jatuh. Namun, dengan begitu, justru jelas sekali kalau Mas Dewa sudah sangat dzalim padaku. Aku berhak menuntut banyak hal darinya. Pantas saja waktu itu dia percaya diri sekali mencium pipiku. Tak tahunya, dia masih berhak atasku. “Kuenya enak, Fa?” pertanyaan Mas Dewa membuyarkan lamunanku. “Enak, Papa.” “Kalau Fafa suka, lain kali Papa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN