Dewa’s POV “Na, bangun, Na!” Aku terus menepuk-nepuk lengan Yuna agar dia mau bangun. Fafa bahkan sudah kuangkat masuk ke kamar, tetapi Mamanya malah tak kunjung bisa dibangunkan. Tampaknya Yuna terlampau lelah hari ini. Sudah pulang sore, masih harus menemani Fafa makan di tempat yang agak jauh pula. Aku bisa mengerti kenapa dia bisa tidur sepulas ini. “Mbak Yuna enggak bangun juga, Mas?” tanya Bi Endah yang langsung kuangguki. “Iya, Bi. Yuna emang kadang gini. Kalau kecapekan, dia bisa tidur kaya orang pingsan. Tapi kalau lagi mode siaga, denger bunyi dikit aja bisa langsung bangun.” “Masa iya, Mas?” “Maksudnya ‘masa iya’?” “Soalnya sejak saya kenal Mbak Yuna, dia belum pernah tidur sepulas ini. Dia dikit-dikit terjaga. Pokoknya mudah banget bangun.” “Oh ya, Bi? Dulu dia bias

