“M-ma … aku mau Papa sama O-om Aric nemenin di r-rumah ini. Kalau enggak boleh d-dua. Satu aja. Mau Papa. Apa b-boleh, Ma?” Pertanyaan semacam ini selalu sukses membuatku bingung. Jika menjawab boleh, aku masih belum ada bayangan balikan dengan Mas Dewa. Sama sekali. Prinsipku soal tidak ada kesempatan kedua masih sangat kuat. Namun, jika aku menjawab tidak boleh, Fafa pasti kecewa luar biasa. Hati siapakah yang harus kudahulukan? Hatikukah? Atau hati putri kecilku? “Enggak boleh, ya, Ma?” Fafa cemberut. Ekspresinya sudah siap menangis lagi. “M-ma?” Aku terdiam cukup lama. Akan tetapi, aku berusaha untuk tetap tersenyum sembari menatap Fafa. Setidaknya, anakku ini tidak merasa terabaikan. “Mama … maafin aku, ya. Kalau enggak boleh, enggak apa-apa. Aku enggak jadi minta Papa—” “Janga

