“Dia bukan suami saya, Dok. Lebih tepatnya, cuma mantan!” Aku buru-buru meralat sebelum Dokter Adit salah paham. Sebenarnya, kalau Dokter Adit itu orang yang sepenuhnya asing, aku tidak akan repot-repot klarifikasi. Tinggal protes ke Mas Dewa kalau Dokter Adit sudah pergi. Itu cukup! Namun masalahnya, Dokter Adit dekat dengan Pak Alam, sedangkan Pak Alam adalah adik ipar mertuaku. Takutnya malah ke mana-mana. Takutnya juga, mertuaku nanti tahu kalau aku sebenarnya telah kembali dan membawa cucu mereka. Sungguh aku belum siap untuk itu! “Jadi … yang benar masih suami atau mantan, ini? Kenapa jawabannya berbeda?” tanya Dokter Adit sembari menatapku dan Mas Dewa bergantian. “Yang satu masih ngakuin, yang satu lagi enggak.” “Apa urusannya dengan Dokter?” tanya Mas Dewa yang seolah menanta

