24. Memulai Baru, Bukan Kembali

2001 Kata

Back to Yuna’s POV  “Habis telepon anak, Bu?” tanya Pak Rizki begitu aku menutup panggilan dari Mas Dewa. Lebih tepatnya, Fafa yang ingin ngobrol denganku. Aku sendiri baru saja selesai workshop hari pertama. Nanti malam ketemu Mas Zayn, niatnya cari makan dan oleh-oleh untuk Fafa. Bicara Fafa, dia tampak sangat sehat di Jogja. Sepertinya dia sudah benar-benar sembuh. Dari rautnya juga tampak bahagia. Membuatku sangat tenang meninggalkannya. “Iya, ini, Pak. Anaknya enggak sabar pengen saya lekas pulang. Padahal tinggal besok.” “Anak umur segitu memang biasanya lagi susah-susahnya ditinggal jauh. Kan lagi aktif-aktifnya juga.” “Betul, Pak.” “Tapi udah sehat, kan, Bu? Katanya kemarin sakit.” “Alhamdulillah sudah, Pak.” “Syukurlah.” Ngomong-ngomong Pak Rizki, umurnya sama denganku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN