BAB 1
Deru hujan terdengar dari Iuar rumah. Angin menampar-nampar air, menghantam dinding batu dan jendela kaca, menimbulkan bunyi derak yang mengerikan. Pohon bergoyang, dengan beberapa ranting patah, tidak kuasa menahan derasnya hujan. Suasana di luar rumah yang penuh keributan, sangat kontras dengan bagian dalam di mana orang-orang berpakaian hitam duduk sambil menekuk kepala.
Sekilas, pemandangan itu terlihat seolah-olah kesedihan sedang mencengkeram orang-orang itu. Wajah mereka yang sendu, desah napas tertahan, isak tangis perlahan, semua menggambarkan rasa kehilangan yang dalam. Namun, tidak begitu bagi Zayne. Ia bisa melihat kalau orang-orang itu sedang bersandiwara. Sama sekali tidak ada kesedihan yang benar-benar murni ditujukan bagi pasangan yang baru saja dikubur.
Orang-orang itu berpura-pura menangis sementara tangan mereka menengadah di bawah meja, mengharapkan sesuatu yang akan jatuh pada mereka. Bisikan pelan mereka embuskan ke telinga para pengacara, dan berharap nama mereka tertulis di dalam dokumen tebal yang ada di meja kaca.
“Orang-orang munafik sialan!” desah Zayne putus asa.
Merasa kesal karena terjebak dalam situasi yang membuatnya harus duduk bersama orang-orang yang tidak menyukainya. Terdengar rengekan dari mulut seorang bayi. Zayne menatap dari ujung matanya, seorang gadis berkacamata dengan rambut dikuncir, sedang menenangkan bayi tersebut. Suara gadis itu penuh kesabaran, sembari menepuk-nepuk lembut punggung si bayi dan sepertinya sedang membisikkan kata-kata penghiburan. Gadis itu tanpa sengaja meliriknya. Mata mereka bertemu, lalu dengan cepat gadis itu memalingkan wajah, masuk ke kamar tanpa kata-kata.
Pengacara berjas hitam berdehem, serta-merta isak tangis terhenti. Semua orang mengangkat wajah dan menatapnya.
“Mari, kita mulai membacakan wasiat dari almarhum dan almarhumah.”
Zayne memperhatikan perubahan suasana itu dengan tatapan tajam. Sekejap saja, semua orang yang tadinya tampak berduka kini duduk tegak, menatap lurus ke depan dengan mata berbinar penuh harap. Ia hampir ingin tertawa sinis melihat betapa cepatnya kesedihan mereka menguap, digantikan oleh ambisi yang mencolok.
Bibir yang tadi mencebik, mata yang sempat berkaca-kaca, dan suara parau yang pura-pura tercekat—semuanya lenyap begitu pengacara mulai membuka map hitamnya. Seolah kesedihan hanyalah kostum yang mereka kenakan sebentar untuk menutupi niat sebenarnya.
Zayne menyandarkan punggungnya, menatap satu per satu wajah yang kini berseri-seri, menunggu nama mereka disebut. Ia bisa membaca dengan jelas di mata mereka: bukan duka yang tersisa, melainkan rakusnya harapan akan warisan. Ruang tengah yang semula penuh kesedihan kini berubah menjadi panggung bagi keserakahan.
Sang pengacara memanggil pelayan. “Bisa minta tolong panggilkan Arielle?”
Saat pelayan melangkah masuk terdengar decakan keras. “Kenapa harus ada gadis itu? Dia bukan bagian dari keluarga kita?”
Yang bicara adalah gadis berusia 22 tahun, seusia dengan Arielle. Raut wajahnya menyiratkan kekesalan. Bernama Odellia dengan rambut hitam panjang sebatas bahu. Wajah Odellia menyiratkan keangkuhan yang nyata.
“Yang dikatakan sepupuku ada benarnya, kenapa harus memanggil Arielle?” Kali ini, laki-laki muda seusia Zayne, menyela keras. Laki-Iaki itu menatap Odellia dan keduanya bertukar pandang dalam pemahaman yang sama.
Zayne memanggilnya Nico, meskipun tidak akrab satu sama lain, tapi mereka adalah sepupu. Dan itu fakta yang menjengkelkan bagi Zayne.
Pengacara terlihat tenang dan tidak terpengaruh dengan protes mereka. Tersenyum, mengambil tumpukan dokumen. “Kita akan menunggu Arielle datang.”
“Gadis aneh itu. Mulai kapan jadi begitu penting?”
“Bukankah dia hanya seorang pengasuh?”
“Kenapa baby sitter ikut serta dalam pembacaan wasiat?”
Gumaman dan decak ketidakpuasan memenuhi ruangan. Zayne memperhatikan orang-orang itu yang terlihat sangat terganggu dengan kehadiran gadis bernama Arielle. Ia sendiri cenderung tidak peduli. Bisa bebas dari ruangan ini lebih cepat, akan lebih baik untuknya.
“Pak Pengacara.” Arielle menyapa kikuk, di bawah tatapan orang-orang di ruangan. “Ada yang bisa saya bantu?”
Pengacara mengangguk. “Ayo, ambil kursi dan duduk nyaman, Arielle. Kita akan segera membacakan wasiat.”
“Tapi, bukankah mereka baru meninggal?” sanggah Arielle bingung. “Harusnya menunggu sampai tujuh hari atau sebulan setelah kematian bukan?”
“Eh, gadis miskin. Duduk aja udah lo, nggak usah banyak cincong. Lo cuma pengasuh di sini. Bukan siapa-siapa!” Odellia menyela keras dan terdiam saat sang mama memberinya tatapan peringatan.
Arielle melirik Odellia lalu mengangguk. “Pak, yang dia bilang benar. Saya hanya pengasuh, nggak seharusnya ada di sini.”
Zayne mendengkus, mengetuk meja kaca dengan jari jemarinya. “Kalian semua berisik sekali!” Ia menunjuk Odellia dan memberi tanda jemari mengatupkan bibir. “Kamu, diam!” Odellia melotot, Zayne tidak peduli. “Arielle, kamu duduk dan jangan banyak cincong. Biar masalah ini cepat selesai!”
Arielle menatap laki-laki muda di sampingnya dengan ekspresi setengah kesal, setengah pasrah. Ia tidak suka mendengarnya memberi perintah, apalagi dengan nada dingin dan tegas seperti itu. Namun, di lubuk hati terdalam, ia tahu Zayne benar. Tidak ada gunanya memperpanjang perdebatan. Lebih baik mendengarkan pengacara menjelaskan semuanya, menyelesaikan urusan ini secepat mungkin.
Matanya beralih pada salah satu sofa kosong di ruang tamu, tepat di samping Zayne. Dengan langkah ragu, ia duduk, merasakan ketegangan udara di antara mereka berdua. Jari-jarinya sigap merapikan letak kacamata yang sedikit miring, kebiasaan kecil yang muncul setiap kali ia gugup.
Dalam diam, Arielle hanya bisa berharap bayi kecilnya tidak terbangun. Suara-suara keras dan aura dingin yang menyelimuti ruangan ini sudah cukup membuatnya sesak—ia tidak ingin Axel ikut merasakan kekacauan ini.
“Semua sudah di sini. Bisa kita mulai?” tanya pengacara pada dua laki-laki tua yang duduk berdampingan dengan istri-istri mereka. Keduanya mengangguk bersamaan. Pengacara berdehem, mengedarkan pandangan. “Di tangan saya ada surat wasiat dari almarhum Pak Julian Wasesa dan istrinya Bu Evelyne Wasesa. Seperti kalian ketahui, mereka meninggal karena kecelakaan mobil dan meninggalkan seorang bayi, bernama Axel yang saat ini baru berumur 10 bulan.”
Zayne menyilangkan kaki, mulai dilanda kebosanan karena sang pengacara yang dianggapnya sangat bertele-tele. Di sampingnya, Arielle terus-menerus melirik ke arah kamar. Gadis itu sepertinya tidak ingin terlalu lama meninggalkan si bayi.
“Sudah diputuskan kalau perusahaan plastik akan diserahkan pada Pak Elias untuk dikelola, dan pabrik sepatu untuk Pak Evan. Keduanya dianggap sanggup dan mumpuni untuk menjadi penerus perusahaan.”
Kedua laki-laki yang duduk bersebelahan, saling bertukar pandang penuh kepuasaan. Pabrik plastik dan sepatu yang diserahkan pada mereka cukup bagus dan sedang berkembang pesat. Banyak memberikan keuntungan beberapa tahun belakangan.
“Bagaimana dengan perusahaan induk?” tanya Elias. Laki-laki dengan janggut panjang dan wajah kurus itu bertanya pada pengacara. Perusahaan induk almarhum Julian, membawahi lebih dari 10 perusahaan termasuk pabrik sepatu dan plastik.
Pengacara berdehem lalu tersenyum. “Sabar, Pak. Kita belum sampai ke sana. Selanjutnya tentang rumah ini, diserahkan pengelolaan pada Arielle—”
“Apa? Dia hanya pelayan!”
“Bagaimana mungkin mewarisi rumah ini!”
Beragam protes berdatangan dari para perempuan yang ada di ruangan, mereka menatap Arielle dengan sengit.
Pengacara mengangkat tangan. “Saya belum selesai bicara. Ada catatan, kalau Arielle harus mengasuh Axel dengan benar untuk mendapatkan rumah ini.”
Odellia menggebrak meja. “Apa susahnya merawat bayi. Semua orang bisa melakukan? Axel adalah sepupuku. Serahkan saja pada aku dan mamaku. Semua beres.”
“Benar itu!” dukung Evan, papa dari Odellia. “Apa yang dikatakan anakku itu benar. Berikan pengasuhan bayi itu pada kami dan kami pasti bisa merawat dengan baik.”
Elias berdehem. “Adikku, pabrik sepatu saat ini sedang sangat berkembang. Kamu akan kesulitan kalau harus merawat satu bayi. Biarkan saja, istriku yang merawatnya.”
Di samping Elias, perempuan ber-make up tebal dengan kerudung hitam mengangguk antusias.
“Nggak usah sungkan, Kak. Biar saja, kami yang merawat.” tolak Evan.
Zayne mengepalkan tangan begitu keras hingga buku jarinya memutih. Suara pertengkaran di ruang tamu semakin memanas, menusuk telinganya seperti jarum. Ia ingin sekali bangkit dari sofa dan membungkam mulut mereka semua dengan satu pukulan keras—biar mereka tahu kapan harus diam. Ia muak mendengar orang-orang yang seharusnya keluarga, tapi berubah menjadi serigala kelaparan begitu harta dibicarakan.
Di sisi lain, Arielle hanya bisa menghela napas panjang. Kepalanya terasa berat, pelipisnya berdenyut karena emosi yang ditekan. Ia tidak ingin ikut dalam perebutan ini. Rumah, saham, atau apa pun yang mereka ributkan tidak pernah menjadi tujuannya. Ia hanya ingin kedamaian, ingin Axel tumbuh sehat dan bahagia tanpa harus mengenal kebencian seperti ini.
Namun saat ia melirik ke arah Zayne, hati Arielle mencelos. Amarah di mata pria itu tampak berbahaya, seolah satu langkah lagi, semua batas kesabaran akan runtuh.
“Tidak bisaa! Terserah apa yang kalian ingin katakan dan lakukan tapi di surat wasiat tertera begitu. Sekarang, kita beralih ke perusahaan induk.” Teriakan pengacara menghentikan perdebatan tentang perebutan bayi.