Sepanjang malam, Arielle tidak dapat memicingkan mata. Ia terus menerus teringat akan Zayne dan betapa kurang ajarnya laki-laki itu padanya. Ia tahu, Zayne sedikit mabuk, semua tindakannya dilakukan dengan tidak sadar. Tetap saja berpengaruh besar padanya. Tanpa sadar, ia meraba k*********a dan merasa lebih panas. “Hah, dasar porno. Otak c***l!” Memaki pelan, Arielle menarik bantal dan menekannya ke telinga, mencoba menepis suara pikirannya sendiri. Ia berharap bisa segera tertidur, melupakan segala kekacauan yang terjadi malam tadi. Namun, harapan itu sia-sia. Setiap kali memejamkan mata, bayangan Zayne kembali hadir—senyumnya, suaranya, dan sentuhan yang masih terasa di kulitnya. Ia berbalik ke kiri, lalu ke kanan, tapi rasa gelisah itu tak juga hilang. Malam terasa begitu panjang, d

