Malam itu rumah terasa sunyi, hanya terdengar suara hujan pelan di luar jendela dan sesekali gemerincing mainan bayi yang terjatuh. Harsha meringis di ayunan, tangisnya mulai terdengar, lemah tapi terus bertambah kuat. Gladis yang baru saja menidurkan bayi itu, langsung menegang. “Fito… dia menangis lagi,” bisiknya, suaranya lelah tapi tegang. Alfito segera datang, duduk di sampingnya. “Tenang, Glady. Kita hadapi bareng.” Mereka bergantian menggendong, menepuk punggung Harsha, mencoba menenangkan tangisnya. Setiap detik terasa panjang, tubuh Gladis mulai lelah, tapi matanya tetap menatap bayi kecil itu penuh kasih. “Maaf ya, Nak… Mama nggak bisa bikin kamu tenang sekarang,” bisik Gladis sambil menahan air mata. Alfito menatap istrinya, suara lembutnya mencoba menenangkan. “Jangan bila

