Siang itu udara rumah sakit terasa hangat, cahaya matahari menembus jendela dengan lembut, menimpa bayi-bayi prematur di NICU. Gladis duduk di kursi roda, Harsha masih meringkuk di dadanya setelah sesi kangaroo therapy pagi tadi. Nafasnya sedikit teratur, tapi pandangannya tak lepas dari monitor yang terus menampilkan angka-angka kehidupan kecil putranya. Alfito berdiri di samping, memegang laporan terbaru dari perawat. “Kamu lihat, Glady? Saturasinya mulai stabil lagi. Bayi kita kecil tapi tangguh banget.” Gladis menatap Harsha, bibirnya bergerak pelan. “Iya… tapi aku nggak bisa nggak khawatir. Setiap alat berbunyi aku langsung panik.” Alfito meremas tangannya, lembut tapi menenangkan. “Itu wajar. Aku juga sering takut. Tapi kita nggak boleh biarkan ketakutan itu menguasai kita. Harsha

