Setelah minum kopi di cafe kecil itu, Alfito mencoba mencairkan suasana dengan ajakan sederhana. “Sayang, gimana kalau kita lihat-lihat baju? Aku liat tadi ada butik baru di lantai dua. Kamu pasti suka, modelnya mirip yang kamu pernah bilang pengen beli waktu itu.” Gladis mengangguk pelan. “Boleh deh, sekalian cuci mata.” Mereka berjalan berdua menyusuri lantai mall yang dipenuhi cahaya lampu dan musik lembut dari pengeras suara. Perlahan, langkah Gladis mulai lebih ringan. Saat melihat beberapa gaun yang digantung di etalase, ia bahkan sempat berkomentar kecil. “Bagus ya yang itu, kayaknya nyaman dipakai buat acara santai.” Alfito tersenyum lega. “Kalau kamu suka, kita beli.” “Tapi aku belum coba,” jawab Gladis cepat. “Ya udah, cobain dulu. Aku tunggu di sini.” Untuk beberapa saat

