Pintu tertutup sempurna, menyisakan keheningan yang terasa jauh lebih berat daripada percakapan barusan. Gladis masih berdiri di tempatnya, punggungnya kaku, napasnya belum sepenuhnya kembali normal. Tangannya dingin, jemarinya sedikit gemetar meski ia berusaha menahannya. Alfito memperhatikan istrinya tanpa berkata apa pun, memberi waktu agar Gladis menenangkan diri dengan caranya sendiri. Beberapa detik berlalu sebelum Gladis akhirnya bergerak. Ia melangkah pelan menuju sofa, lalu duduk sambil menyandarkan punggung. Matanya menatap kosong ke depan, seolah pikirannya masih tertinggal pada tatapan dingin yang baru saja meninggalkan rumah mereka. Alfito ikut duduk di sebelahnya, menjaga jarak tipis namun tetap cukup dekat untuk membuat Gladis merasa tidak sendirian. “Maaf,” ucap Gladis ti

