Gladis duduk di tepi sofa cukup lama setelah pintu tertutup. Senja di luar jendela berubah menjadi gelap perlahan, cahaya oranye berganti biru tua, lalu hitam. Lampu ruang tamu belum dinyalakan, membuat ruangan itu terasa redup dan sunyi. Ia masih bisa merasakan sisa ketegangan di tubuhnya, seperti getaran halus yang belum sepenuhnya reda. Alfito berdiri di dekat jendela, menatap keluar tanpa benar-benar melihat apa pun. “Aku kira aku bakal lebih gemetar dari ini,” ucap Gladis akhirnya, memecah keheningan. Alfito menoleh, lalu mendekat dan duduk di sebelahnya. “Tapi kamu nggak.” Gladis menghela napas. “Aku gemetar di dalam. Cuma… aku capek kelihatan lemah.” Alfito mengangguk pelan. Ia paham betul perasaan itu. Selama ini, mereka terlalu sering berada di posisi bertahan. Selalu mencoba

