Pagi berikutnya datang tanpa banyak perubahan. Langit masih abu-abu, udara masih terasa berat, dan Gladis masih terbangun dengan perasaan yang sama. Bedanya, kali ini ia tidak langsung bangun. Ia berbaring diam, menatap langit-langit kamar sambil mendengarkan napas Alfito di sampingnya. Ada rasa tenang yang tipis, hampir tak terasa, tapi cukup untuk membuatnya bertahan beberapa menit lebih lama sebelum bangkit. Alfito membuka mata lebih dulu. Ia menoleh, mendapati Gladis sudah terjaga. “Kamu nggak tidur lagi?” tanyanya pelan. Gladis menggeleng. “Takut kebablasan mikir.” Alfito tersenyum kecil, lalu meraih tangan Gladis dan mengusap punggungnya dengan ibu jari. “Kalau mulai kebablasan, bangunin aku.” “Aku nggak mau ganggu,” jawab Gladis. “Kamu bukan gangguan,” sahut Alfito tanpa ragu.

