Lampu-lampu kristal di lobi hotel itu memantulkan cahaya keemasan, memberi kesan mewah dan hangat pada setiap sudutnya. Sebuah mobil hitam berhenti di depan pintu utama. Dari dalamnya, Alfito keluar lebih dulu, kemudian berjalan cepat ke sisi lain untuk membukakan pintu bagi Gladis. Saat wanita itu melangkah turun, semua seolah melambat gaun hitam renda yang ia kenakan berkilau lembut di bawah sorot lampu, dan setiap langkah kecilnya memancarkan aura elegan yang tak bisa diabaikan. Alfito menatapnya sejenak, kagum, sebelum mengulurkan tangan. “Ayo.” Gladis mengangguk, dan begitu jari-jemari mereka bertaut, mereka berjalan masuk bersama. Begitu mereka melangkah ke dalam, beberapa kepala langsung menoleh. Tatapan para tamu baik pria maupun wanita tertuju pada pasangan itu. Alfito denga

