Gladis berdiri seorang diri di sudut ruangan yang gemerlap. Musik lembut mengalun di antara percakapan dan tawa orang-orang berjas elegan dan gaun mewah. Gelas sampanye di tangannya sudah sejak tadi tak tersentuh, hanya digenggam erat seolah menjadi satu-satunya penopang kesadarannya malam itu. Pandangannya kosong menatap ke arah Alfito yang sedang tersenyum ramah, menyapa para tamu bisnisnya. Hatinya terasa berat. Kalimat buah hati yang tadi meluncur dari mulut salah satu istri rekan bisnis suaminya terus terngiang di kepala, seperti duri yang menusuk halus tapi dalam. Ia menunduk, menahan gejolak di dadanya agar tidak terlihat di wajah. Ia tak ingin menimbulkan perhatian, tak ingin membuat malam penting bagi Alfito menjadi rusak hanya karena dirinya. Langkah lembut terdengar mendekat.

