Mobil mereka berhenti di depan gerbang. Lampu taman menyala lembut, dan begitu pintu dibuka, dua Mochi dan Snow segera menghampiri dengan langkah gesit dan manja. Mochi mengeong pelan sambil menggesekkan tubuhnya ke kaki Gladis, sementara Snow melompat ke sofa dan menatap dengan mata bulatnya yang menggemaskan. Gladis sempat tersenyum, tapi senyum itu tak sampai ke matanya. Ia berjongkok sebentar, mengelus kepala Mochi dengan lembut. “Hai… sudah nunggu, ya?” bisiknya. Namun setelah itu, ia berdiri lagi tanpa semangat, berjalan perlahan menuju kamar tanpa banyak bicara. Alfito menatap punggung istrinya yang menghilang di balik pintu kamar. Ada sesuatu yang berat terasa di dadanya, campuran rasa bersalah, sedih, dan cemas. Ia menunduk, menghela napas panjang, lalu menatap dua kucing yang

