Malam itu tidak ada yang benar-benar tidur. Kamera pengawas terus menyala di setiap layar, penjaga keamanan memutari rumah dengan ritme yang tidak pernah longgar, sementara Gladis duduk bersandar di ranjang dengan bantal menopang punggungnya. Ia tidak ingin sendirian. Alfito pun tidak pernah beranjak. Lampu kamar dibuat redup, tapi petir sesekali menyala panjang dan membelah langit, membuat bayangan di dinding tampak seperti sosok yang bergerak. Setiap kali hal itu terjadi, Gladis memegangi perutnya lebih erat. “Kalau kamu capek, kamu tidur dulu” bisik Gladis. Aku lebih capek waktu kamu nangis barusan jawab Alfito dalam hati. Tapi ia hanya menggeleng. “Aku baik. Aku jaga kamu.” Gladis menatap suaminya. Ada rasa aman yang luar biasa ketika melihat laki-laki itu masih di sisi. Tapi ju

