Sejak kejadian di ruang tamu tadi malam, suasana rumah keluarga Gladis berubah seperti udara yang menahan badai. Semua terlihat normal di permukaan—ibu tinggal memasak, ayah menyalakan televisi, dan Gladis berjalan mondar-mandir di kamar—tetapi ketegangan terasa menusuk di balik setiap napas. Gladis tidak tidur sama sekali. Kata-kata ayahnya terus bergema di kepalanya, terutama kalimat yang menyakitkan itu: “Aku enggak percaya laki-laki itu. Dan aku enggak percaya kamu cukup dewasa buat lihat bahayanya.” Ia memeluk lutut di sudut kamar, menatap jendela yang mulai diterangi matahari. Ada rasa sesak yang menumpuk. Bukan hanya karena ayahnya meragukan Alfito… tapi karena ia meragukan dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya Gladis merasa keputusannya diuji oleh orang yang paling ia hormati.

