Gladis menghabiskan hampir lima menit hanya menatap pintu ruang rapat yang masih tertutup. Lututnya sedikit bergetar dan telapak tangannya basah. Sebenarnya ia tidak pernah takut bertemu keluarga siapa pun, tapi kali ini berbeda. Kali ini yang menunggunya di dalam adalah orang tua Alfito—dua orang yang jelas sangat berarti bagi laki-laki itu. Dua orang yang reaksinya bisa mengubah banyak hal dalam hubungan mereka. Alfito berdiri tepat di sampingnya. Bukan terlalu dekat, tapi cukup agar Gladis bisa mencuri sedikit kehangatan dari keberadaannya. “Kamu siap?” tanya Alfito pelan, suaranya seperti selimut yang menenangkan. “Kalau aku bilang enggak siap, kamu bakal batalin?” Gladis menatapnya tanpa berkedip. Alfito tersenyum kecil, lembut. “Enggak. Karena kamu lebih kuat dari yang kamu kira.

