Gladis tidak bisa tidur hampir sepanjang malam. Setelah kejadian di ruang tamu itu—ketegangan antara Alfito dan Rani, kalimat-kalimat suara tinggi yang seharusnya tidak pernah terlontar—kepalanya terus memutar ulang semuanya seperti kaset rusak. Bahkan ketika ia menutup mata, bayangan wajah Alfito yang murka dan wajah Rani yang tersinggung masih menempel begitu jelas. Di kamar yang remang, ia duduk di tepi ranjang sambil memegang ponselnya. Ada beberapa pesan dari Alfito: “Kamu udah tidur?”, “Aku di bawah kalau kamu butuh apa pun”, dan yang terakhir, “Maaf kalau aku kebablasan tadi.” Gladis menatap pesan terakhir itu lama sekali. Ia tahu Alfito tidak suka bertengkar. Ia selalu berusaha menghindari konflik. Namun demi dirinya, laki-laki itu bisa berubah jadi seseorang yang bahkan Rani, ka

