Hari itu langit Jakarta terlihat cerah, tapi di dalam d**a Gladis, awan kelabu menggantung tanpa izin. Sejak pembicaraan tentang orang tuanya, ada sesuatu yang berubah. Bukan pada sikap Alfito yang tetap hangat dan perhatian, melainkan pada dirinya sendiri. Ia menjadi lebih diam, lebih sering tenggelam dalam pikirannya, seolah sedang menimbang sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan. Alfito menyadari perubahan itu sejak pagi. Cara Gladis mengaduk kopi tanpa benar-benar meminumnya, tatapannya yang sering melayang entah ke mana, dan senyum kecil yang muncul hanya demi sopan santun. Semua itu terlalu kentara untuk dilewatkan. “Kamu lagi mikirin apa?” tanya Alfito akhirnya saat mereka duduk berhadapan di ruang kerja yang mulai sepi. Gladis tersentak kecil. “Hah? Enggak. Cuma capek.” “Ka

