Pagi datang dengan langit yang tidak sepenuhnya cerah. Awan menggantung rendah, membuat cahaya matahari terasa setengah hati, seperti ragu untuk benar-benar muncul. Gladis berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya. Ia merapikan rambutnya, lalu merapikan lagi, sampai akhirnya ia menghela napas dan berhenti. Ia tahu kegelisahan itu bukan soal penampilan. Hari ini Alfito akan menepati ucapannya. Ia akan menemui orang tua Gladis. Bukan secara resmi sebagai calon apa pun, tapi cukup sebagai laki-laki yang ingin dikenal. Dan justru karena itulah, jantung Gladis berdegup tidak karuan. Di ruang makan, Alfito sudah duduk rapi dengan kemeja abu-abu muda. Ia terlihat tenang, terlalu tenang, sampai Gladis curiga itu hanya topeng. “Kamu kelihatan kayak mau wawancara kerja,” kata Gladis sambi

