bc

Fantasi Kekasih Rahasia

book_age18+
12
IKUTI
1K
BACA
dark
forbidden
HE
fated
dominant
badboy
boss
sweet
bxg
city
office/work place
actor
like
intro-logo
Uraian

Content mengandung unsur bucin dan permainan yang bikin dag-dig-dug!

--------

"Hazel, aku ingi masuk ke dalam fantasimu." ucap pria tampan yang menjadi impian para kaum hawa seantero jagad menelusuri tulang rahang, turun ke leher kemudian bahu Hazel dengan sensual.

.

Hazel Anne Quinn, 24 tahun.

Empat tahun menjadi wartawan kecil yang nyaris tak terlihat, hidupnya berkisar antara deadline, kopi dingin, dan tulisan-tulisan yang bahkan tak pernah dibaca orang. Untuk bertahan hidup, ia menulis kisah erotika sebagai ghostwriter di malam hari — kisah tentang cinta dan nafsu yang tak pernah benar-benar ia alami.

.

Sampai hari itu.

Sampai namanya disandingkan dengan satu tugas yang seharusnya mustahil ditolak:

mewawancarai Diego Ronan Blake.

.

Aktor legendaris. Tycoon berdarah dingin. Pria berusia tiga puluh empat tahun dengan tatapan abu-abu kehijauan yang bisa membuat wanita melupakan siapa dirinya.

Pria yang bisa membeli apa pun—termasuk mungkin… rasa ingin tahu Hazel.

.

Wawancara itu seharusnya profesional.

Namun kalimat-kalimat di antara mereka berubah menjadi permainan.

Tiap tatapan, tiap jeda napas, tiap senyum yang hanya muncul separuh bibir — menciptakan sesuatu yang Hazel tak mampu definisikan:

antara ketertarikan dan kehancuran.

.

Dalam dunia di mana kekuasaan, gairah, dan ambisi bertabrakan,

Hazel yang polos menjadi api yang membakar kendali sang tycoon.

.

Dan Diego — pria yang terbiasa memiliki segalanya —

akhirnya menemukan satu hal yang tak bisa ia beli:

rasa lapar yang hanya bisa dipuaskan oleh satu perempuan… Hazel.

--------

Contains adult content, tolong bijak dalam memilih bacaan.

Ini hanya fiksi dan hiburan.

chap-preview
Pratinjau gratis
Hazel Gadis Lugu
Dunia Hazel tidak langsung gelap saat kain sutera hitam itu membelit matanya, malah menyisakan cahaya remang-remang yang membuatnya sadar betul akan setiap bayangan yang bergerak. Hembusan nafasnya yang hangat menerpa kulit lehernya, membuat bulu kuduknya merinding dalam gelombang yang tak henti-hentinya. Ini adalah sensasi yang tak pernah dia rasakan sebelumnya—campuran antara takut dan rindu yang menusuk. Tangannya yang besar tidak terburu-buru. Dengan gerakan penuh kuasa, ia menjelajahi setiap lekuk tubuh Hazel bagai seorang pematung yang mengenali karyanya. Saat jari-jemarinya meraba pergelangan tangan Hazel dan mengikatnya ke belakang punggung dengan sehelai kain halus, Hazel merasakan seluruh tulangnya melemas. ‘Inikah rasanya… disentuh oleh seorang lelaki?’ Rasa panas menjalar dari ujung kaki hingga ke pelipisnya, bergolak seperti aliran lava yang tak terbendung. Bukan seperti semut, tapi seperti aliran listrik bertegangan rendah yang terus-menerus menyengat. Hazel menggeliat, tubuhnya terasa sesak, tersiksa oleh sebuah penantian yang tak kunjung usai. Lalu, tiba-tiba, sepasang bibir hangat menempel di lehernya—tidak hanya mencium, tapi seperti hendak mengecap rasa kulitnya. Nafas Hazel tersengal, dadanya naik turun tak beraturan, seolah jantungnya ingin melompat keluar. Jemari kasar itu terus menjelajah, tanpa ampun, menyalakan api di setiap sentianya. Getaran liar menggigilkan tubuhnya, mulai dari pundak hingga ke betis. Denyutan di bagian paling rahasianya semakin menjadi, mengakui dengan jujur betapa tubuhnya kini sepenuhnya dikuasai oleh lelaki itu. Ini seperti sebuah hukuman, tapi hukuman yang dirayu dengan kenikmatan yang memabukkan. “Akui…” bisiknya, suaranya serak dan penuh obsesi, “Kau merindukan sentuhanku.” Hazel terisak, tubuhnya menyerah pada gelombang hasrat yang tak terbendung. “Aku… merindukanmu…” TRING! TRING! Alarm ponsel meraung. Mata Hazel terbelalak. Sial. Hanya mimpi. Hazel terduduk di atas ranjang, rambut panjangnya tergerai lepek, keringat dingin menempel di pelipis. Cermin besar di depan tempat tidurnya memantulkan bayangan yang nyaris tak ia kenali sendiri — lingkar hitam tebal menghiasi mata, kulit pucat kusam, pipi cekung. Ironisnya, mata belok dan bulu mata panjangnya justru membuatnya tampak lebih mirip zombie daripada manusia normal. ‘Jelek sekali!’ rutuk Hazel pada dirinya sendiri. Ia menghela napas, menepuk pipinya pelan. Bagaimana mungkin pria seperti Diego akan menyukainya? Dengan langkah gontai, Hazel berjalan menuju meja kecil di dekat jendela. Apartemen mungil yang ia sewa sebenarnya cukup nyaman, tapi biayanya hampir membuatnya mati berdiri setiap bulan. Demi membayar sewa, ia harus bekerja keras — menjadi jurnalis kelas bawah di siang hari dan ghost writer di malam hari. Ironis, pikirnya. Buku-buku yang ia tulis diam-diam justru meledak di pasaran, menjadi best seller, mengangkat nama orang lain. Sementara dirinya sendiri tetap tenggelam dalam bayang-bayang, tak dikenal, bahkan sekadar tidur nyenyak pun sulit ia dapatkan. Tapi, tidak apa-apa yang penting bisa memberinya uang. Tak heran kalau wajahnya kini mirip mayat hidup. Hazel menatap pantulan dirinya sekali lagi. Rambut lepek, mata panda, wajah tirus. Tuhan, kalau Diego benar-benar melihatnya dalam kondisi ini, pria itu pasti akan kabur sebelum sempat ia sapa. Ia menutup mata, menahan perih yang tiba-tiba menyelinap di d**a. Bagaimana mungkin lelaki seperti Diego akan pernah menginginkannya? Melirikpun ogah. Hazel terlonjak dari tempat tidur, napasnya tersengal. “Bangun, Hazel!” gumamnya sendiri, menepuk-nepuk pipinya agar segera sadar dari mimpi aneh yang menjeratnya. Dahi dan tengkuknya basah oleh keringat dingin, sementara jantungnya berdegup seolah baru berlari menembus badai. Apa yang baru saja ia alami bukan sekadar mimpi biasa. Terlalu hidup dan juga nyata, sampai tubuhnya masih mengingatnya. Ia mengusap wajah, mencoba menertawakan diri sendiri. Ini pasti karena semalam, pikirnya. Salah satu kliennya meminta ia menulis naskah erotis—sesuatu yang bahkan belum pernah terpikirkan Hazel sebelumnya. Dan tentu saja, demi menulis karakter pria utama dengan detail, ia perlu membayangkan sosok sempurna yang bisa menjiwai setiap deskripsi itu. Kliennya menginginkan tokoh dengan tubuh tinggi hampir dua meter, pinggang ramping, d**a bidang, perut berotot, dan aura dewasa yang memabukkan. Tanpa sadar, bayangan itu langsung berubah menjadi satu nama yang selama ini hanya ia tulis di kolom gosip ‘Diego Ronan Blake’. Aktor kawakan berusia tiga puluh empat tahun, pewaris tunggal kerajaan bisnis berlian dan hotel mewah di Herlington. Lelaki yang bukan hanya menguasai layar, tapi juga dunia di luar sana. Orang-orang menyebutnya The Tycoon of Temptation. Hazel selalu menulis tentangnya dari kejauhan—tentang pesta eksklusifnya, kekasih sempurnanya, dan karier yang seolah tak pernah menurun. Tapi dalam mimpi tadi malam, Diego bukan sosok yang jauh dan tak tersentuh. Ia nyata. Ia menatapnya dengan mata kelam yang menghipnotis, menyentuhnya dengan cara yang terlalu lembut untuk disebut khayalan. Konon, ketika dua jiwa bermimpi tentang satu sama lain di malam yang sama, itu bukan kebetulan. Itu berarti mereka benar-benar bertemu—di tempat di mana waktu berhenti, dan takdir menulis ulang garisnya sendiri. Hazel terdiam lama di ujung ranjang, tangan kanannya perlahan turun, merasakan sesuatu yang membuat pipinya memanas. Tubuhnya bereaksi seolah mimpi itu memang sungguh terjadi. Astaga... murahan sekali aku ini, gumamnya dalam hati, menatap bayangan dirinya di cermin. Rambut panjangnya kusut, pipinya memerah, dan matanya tampak lebih sendu dari biasanya. Ia berdiri, menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan ke kamar mandi. Air dingin mengguyur tubuhnya, namun bahkan air itu tak mampu sepenuhnya menghapus sensasi yang masih membekas di kulitnya. Hari ini, seperti biasa, ia akan kembali ke dunia nyata—ke meja kantor tabloid gosip tempatnya bekerja, di mana kenyataan tak pernah seindah mimpi. Tapi entah mengapa, di balik rasa malu yang menyesakkan, terselip sedikit rasa penasaran yang tak bisa ia tolak. Pagi itu, aroma kopi murahan dan tinta cetak memenuhi ruang redaksi Herlington Daily Buzz, tabloid gosip yang lebih sering dibaca karena skandalnya ketimbang karena akurasinya. Hazel Quinn sudah duduk di mejanya sejak jam delapan, mengetik berita tentang rumor perceraian selebritas yang bahkan ia sendiri tahu bohong. Ia sudah terbiasa. Empat tahun bekerja di sana, dia dimulai dari masa magang saat kuliah di jurusan Komunikasi dan Jurnalistik yang mengajarkannya satu hal yaitu dalam dunia gosip, kebenaran adalah hal pertama yang harus dikorbankan. Hazel baru 24 tahun, tapi kelelahan di matanya seolah milik seseorang yang sudah hidup dua kali lebih lama. Ia bukan reporter top, bahkan tak masuk daftar prioritas untuk liputan besar. Tugasnya selalu sama yaitu mengejar bintang kelas menengah, menulis artikel ringan, atau membenahi naskah wartawan senior yang terlalu malas mengedit. Namun hari itu berbeda. “Hazel!” suara bariton kepala redaksi memecah keramaian kantor. “Kamu gantiin Patrick hari ini.” Hazel menoleh cepat, kaget. Patrick adalah wartawan senior yang sudah sepuluh tahun di tabloid itu, selalu mendapatkan prioritas dan kesempatan emas dan biasanya tak pernah digantikan siapa pun. “Gantikan? Maksudnya?” tanya Hazel hati-hati. “Dia mendadak nggak bisa hadir. Kamu yang paling kosong hari ini, kan? Wawancara jam dua siang di Grand Bellagio Hotel.” Redakturnya melempar map berisi jadwal dan lembar konfirmasi wawancara. Nama di baris pertama langsung membuat Hazel kehilangan napas. DIEGO RONAN BLAKE. Rasanya dunia berhenti sepersekian detik. Semesta, rupanya, sedang bermain-main dengan humor yang terlalu kejam. Hazel menatap nama itu lama, jantungnya berdetak di d**a seperti palu yang menuntut perhatian. Baru semalam ia bermimpi tentang pria itu — dan kini, ia harus menatap wajahnya dari jarak yang bahkan tidak seberapa jauh. ‘Universe … apakah ini caramu bercanda denganku?’

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
305.6K
bc

Too Late for Regret

read
260.9K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.6M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.2M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
134.3K
bc

The Lost Pack

read
363.5K
bc

Revenge, served in a black dress

read
140.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook