Hazel menatap layar perekam di atas meja — sudah lebih dari dua puluh menit.
Ia seharusnya berhenti sekarang, menutup wawancara, lalu menulis laporan singkat untuk redakturnya. Tapi entah kenapa, jarinya hanya diam di atas tombol stop. Diego Ronan Blake belum memberi tanda bahwa sesi ini selesai, dan tubuh Hazel pun seolah menolak untuk berdiri.
Pria itu bersandar santai di kursinya, kemeja hitamnya sedikit terbuka di bagian leher, memperlihatkan kulit keemasan dan garis otot halus yang bergerak saat ia bernapas. Jari-jarinya mengetuk perlahan sandaran kursi, ritmenya pelan… nyaris seperti detak jantung Hazel sendiri.
“Hazel Quinn …,” dia bergumam, suara Diego berat dan tenang, seperti baru saja keluar dari hening yang panjang.
Ia bersandar di kursi, jari-jarinya mengetuk pelan sandaran tangan dengan ritme teratur.
“Nona Quinn,” katanya akhirnya, nada suaranya nyaris seperti gumaman, “baru kali ini aku bertemu wartawan seperti ini.”
Hazel mengangkat kepala, sedikit bingung tapi tetap menjaga ekspresinya. “Seperti ini?”
Diego memiringkan kepala, menatapnya dengan mata gelap yang seolah bisa membaca sampai ke balik kulitnya.
“Apakah ini Nona Hazel Quinn yang sebenarnya…” ia berhenti sejenak, suaranya menurun setengah oktaf, “atau hanya versi yang kau tunjukkan di depanku?”
Hazel menelan ludah, menyamarkan kegugupannya dengan senyum tipis. “Saya tidak tahu versi yang Anda maksud, Tuan Blake.”
“Diego,” potongnya lembut, tapi tegas. “Aku tidak suka formalitas.”
Hazel sempat ragu sejenak sebelum akhirnya menuruti. “Baik, Diego.”
Nama itu keluar pelan, tapi terdengar terlalu lembut bahkan di telinganya sendiri — dan Diego tahu itu.
Sudut bibir pria itu terangkat sedikit, senyum samar yang tidak ramah, tapi juga tidak bisa disebut dingin. Itu semacam senyum yang terasa… berbahaya.
“Mungkin karena itu,” katanya pelan, “kau membuatku penasaran.”
Hazel berusaha menahan napas, menatap layar perekam yang masih menyala di atas meja.
Sial. Ia tidak seharusnya bereaksi seperti ini. Ia sudah tahu sejak awal, tidak ada yang mudah dari wawancara dengan Diego Blake. Tapi tidak disangka, yang sulit bukan pertanyaannya — melainkan dirinya sendiri.
Diego tersenyum samar — bukan senyum yang sering terlihat di kamera. Ada sesuatu yang lain di sana, seperti seseorang yang sedang menimbang apakah akan menelan mangsanya atau sekadar bermain dengannya dulu.
Kebanyakan wanita, Hazel tahu, akan menunduk di hadapan tatapan seperti itu. Tapi ia berbeda. Ia justru menarik diri, bukan karena tidak tertarik, tapi karena tahu diri. Ia tidak mau terlihat seperti penggemar bodoh yang berkhayal bisa masuk ke dunia pria seperti Diego.
Dan mungkin, justru karena itu, Diego malah semakin memperhatikannya.
Hazel mendongak. “Apa maksud Anda?”
“Caramu menatapku,” Diego mencondongkan tubuh sedikit ke depan, matanya menelusuri wajah Hazel perlahan, “bukan seperti wartawan yang ingin memancing headline. Tapi seperti seseorang yang… menilai.”
Hazel mengerjap. “Maaf …. Saya tidak mengerti.” Ucapnya menyembunyikan kegugupan karena takut membuat kesalahan yang akan berujung membuatnya kehilangan pekerjaan. Pekerjaannya lebih penting dari apapun.
Diego tertawa kecil — suara itu rendah dan dalam, membuat sesuatu di dalam Hazel bergeser pelan. “Atau mungkin karena kau sedang menahan sesuatu.”
Hazel menatapnya datar, pura-pura tidak paham. “Menahan apa?”
“Menahan untuk tidak jatuh,” katanya pelan. “Pada hal yang kau bisa saja bersikap seperti yang lain, biasa saja.” Tatapan Diego kini lebih ke menilai, wanita muda di hadapannya ini dia bisa nilai kalau dia tak memiliki banyak pengalaman dengan lawan jenis. Terlihat polos dan lugu.
Secara fisik, sebenarnya menarik. Tapi, gurat kelelahan menutupinya. Payudaranya tak besar tapi dengan pinggang yang ramping dan semuanya … cukup. Just Right!. Yang paling menarik adalah matanya. Pasti sangat indah dan seksi saat orgas-me.
Untuk sesaat, Hazel kehilangan napas. Ia tidak tahu apakah Diego hanya menggoda, atau benar-benar membaca pikirannya.
Keheningan di antara mereka terasa tebal, nyaris seperti kabut. Hazel mengalihkan pandang, mencari pegangan pada naskah di tangannya, tapi kata-katanya tak terbaca.
Ia membatin dalam hati:
Jadi ini alasannya.
Kenapa Pak Martin memintaku yang turun tangan. Karena tatapan pria ini bisa membuat siapa pun kehilangan kata-kata. Karena sikapnya yang dingin tapi dominan, membuat orang merasa kecil di hadapannya.
Hazel menarik napas perlahan. Ia harus bertahan.
Untung saja, dia tidak pernah punya kebiasaan mengidolakan siapa pun.
Dan mungkin, karena itu pula, ia masih bisa duduk di sini — walau jantungnya sudah lama tidak tenang.
“Sepertinya wawancara ini sudah cukup panjang, Diego. Saya tidak ingin mengganggu jadwal Anda,” ujarnya akhirnya.
Diego tidak langsung menjawab. Ia hanya memandanginya, lama dan sikapnya tetap tenang, tapi ada sesuatu di balik tatapan itu, sesuatu yang membuat udara di antara mereka berubah suhu.
Lalu ujung bibirnya bergerak sedikit.
“Sekarang aku mengerti kenapa redakturmu memilih kamu, bukan orang lain.”
Hazel mengernyit ringan. “Kenapa begitu?”
Diego tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya, agak lama, nyaris tanpa kedipan.
Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Tidak banyak orang bisa tetap tenang di hadapanku, Nona Hazel.”
Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu yang lembut di sana — seperti sedang memuji, sekaligus menguji.
Hazel berusaha tersenyum, menahan napas yang terasa berat di d**a. “Saya hanya melakukan pekerjaan saya, Tuan Blake.”
“Diego, kamu lupa lagi” ia mengingatkan pelan.
Hazel mengangguk kecil. “Baik, maaf … Diego.”
Nama itu meluncur begitu saja, terlalu lembut, terlalu pribadi — dan ia tahu Diego mendengarnya.
Pria itu mencondongkan tubuh sedikit, matanya tak lepas dari wajah Hazel.
Tentu saja Hazel salah tingkah, dia tak berani menatap langsung tapi membuang pandangan lebih salah.
“Anda benar, Tuan Blake … maksud saya, Diego. Karena Anda cukup misterius dan dihormati bukan? jadi mereka semua takut” gumam Hazel.
“Bukan,” jawabnya akhirnya. “Karena sebagian besar dari mereka lupa kalau sedang bekerja.”
Hazel tidak tahu apakah kalimat itu sebuah peringatan, godaan, atau hanya pernyataan fakta. Tapi yang jelas, detik itu juga — ia bisa merasakan suhu ruangan berubah.
Terlalu sunyi. Terlalu dekat.
Ia menarik diri perlahan, menyelamatkan diri dengan senyum profesional yang tipis. “Saya akan kirim transkripnya dalam dua hari.”
Saat ia berbalik, suara Diego terdengar lagi — pelan, nyaris seperti gumaman yang sengaja dibiarkan menggantung di udara:
“Jangan terburu-buru, Hazel. Beberapa hal lebih menarik kalau dibiarkan menggantung sedikit lebih lama.”
Hazel menoleh, hanya sebentar. Tatapan pria itu seperti bayangan, tak bisa disentuh tapi terasa menyentuh.
Dan untuk pertama kalinya, Hazel benar-benar tidak yakin siapa yang sedang mewawancarai siapa. Ia tersenyum kaku, mencoba menahan sesuatu yang aneh di dadanya.
Mungkin hanya perasaannya saja.
Atau mungkin… ah, tidak! Hazel kamu harus tahu tempat! Dia bukanlah seseorang yang bahkan boleh ada dalam imajinasimu!.
Hazel meraih tasnya, menunduk sopan. “Terima kasih untuk waktunya, Diego. Saya benar-benar menghargainya.”
Diego berdiri pelan. Gerakannya tenang, tapi ada sesuatu dalam caranya memandang yang membuat udara di antara mereka seolah menipis.
“Hazel,” panggilnya, tepat sebelum ia sempat melangkah pergi.
Hazel berhenti, menoleh setengah, jantungnya berdetak tak beraturan.
Diego menatapnya dari balik bayangan lampu studio, senyumnya samar dan nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk membuat tubuh Hazel menegang tanpa alasan.
“Jika nanti kau merasa wawancara ini belum cukup…” katanya pelan, nada suaranya turun setengah oktaf. “Aku tidak keberatan kalau kamu ingin datang lagi.”