Gala Premier

1592 Kata
Sudah seminggu sejak wawancara itu, dan Hazel masih belum benar-benar bisa melepaskan suaranya dari kepala. Nada tenang Diego Ronan Blake, cara ia berhenti di tengah kalimat seolah tahu kapan kata harus dibiarkan menggantung—semuanya masih menempel di benaknya seperti sisa parfum yang enggan hilang. Transkrip wawancara itu sudah melalui tiga kali revisi besar, dua kali perombakan kecil, dan satu kali… kembali ke naskah awal. Hazel tahu, Diego pasti sengaja. Entah untuk mengetes profesionalitasnya, atau sekadar permainan kecil untuk melihat seberapa jauh ia bisa menahan diri. Hazel gak mau GR tapi tetap saja kalau kepikiran bikin deg-degan. Ia tidak marah, kok! hanya sedikit lelah. Matanya sembab, bahunya kaku, dan kafein sudah berhenti bekerja sejak dua hari lalu. Tapi tetap saja, ketika menatap halaman terakhir artikelnya, Hazel tidak bisa menahan senyum tipis. Tulisan itu hidup. Seolah-olah setiap kata menyimpan denyut halus dari percakapan yang terlalu pribadi untuk disebut formal. Dan sekarang, satu hari sebelum edisi Herlington Daily Buzz naik cetak, ia menatap layar laptopnya dengan rasa lega bercampur gentar. Ia sudah menyelesaikannya. Tapi rasa bergetar di dadanya justru makin sulit diabaikan. Besok artikel itu akan dibaca ribuan orang. Dan di antara semua nama dan kalimat yang akan terbit, hanya Hazel yang tahu bahwa di balik wawancara itu… ada sesuatu yang tak tertulis. Sesuatu yang bahkan ia sendiri belum berani sebut. Ia menutup laptop, mengembuskan napas panjang, lalu melirik ke gaun yang tergantung di pintu lemari—gaun yang sudah disiapkannya untuk gala premiere malam nanti. Ada rasa takut karena untuk wartawan rendahan seperti dirinya, sangat jarang mendapatkan kesempatan Hazel yang biasanya tersembunyi di balik blazer kebesaran dan sepatu karet, kini berdiri di depan cermin dengan bahu terbuka. Gaun sewaan berwarna olive-gold membalut tubuhnya, terasa lembut, jatuh dengan anggun mengikuti garis pinggang dan pinggulnya, seolah meniru lekuk lembah dan bukit dalam lanskap bumi. Kainnya tidak berkilau mencolok, tapi ketika tertimpa cahaya lampu kamar, teksturnya memantulkan rona hangat keemasan, seperti sinar matahari yang jatuh di tanah basah setelah hujan. Hazel menatap dirinya lama. Gaun itu bukan hanya pakaian; seolah-olah bumi sendiri menyentuh kulitnya, menenangkan, tapi juga mengingatkan bahwa sesuatu dalam dirinya telah berubah. Rambutnya digelung rendah dengan sedikit helaian dibiarkan jatuh lembut di sisi wajah—gaya yang sederhana, tapi memberi kesan liar yang alami. Make up-nya pun tidak berlebihan, hanya sentuhan cokelat muda di kelopak mata dan lipstik nude yang membuat bibirnya tampak hangat, hidup. “Earth Elemental,” gumamnya pelan, menatap bayangannya. “Semoga aku tidak terlihat seperti dahan kering di antara bunga-bunga mahal itu.” Gadis muda dari sekolah seni yang menjadi make up artist amatirnya terkikik. “Tidak, Kak. Kamu kelihatan seperti versi elegan dari musim semi yang baru bangun.” Hazel tertawa kecil, tapi di dalam dadanya ada sesuatu yang berdetak, bukan sekadar gugup karena pesta gala, tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih samar. Kenapa aku berusaha sekeras ini untuk bisa tampil sempurna. Apakah ini untuk diriku sendiri, perusahaan atau … jangan-jangan untuk menarik perhatian Diego. Hazel menggeleng cepat. Menghapus pikiran bodoh yang menyusup di otaknya. Pak Martin menunggu di depan gedung apartemen dengan mobil hitam milik kantor. Biasanya, Hazel selalu datang lebih dulu dan Martin yang dibuat menunggu dengan wajah kesal, tapi malam ini berbeda. Tatapan pria itu terpaku pada sosok yang berjalan mendekat dengan langkah hati-hati, di bawah cahaya lampu jalan yang berwarna keemasan. Hazel. Gaun olive-gold itu membuat kulitnya tampak lebih hangat, berkilau samar setiap kali ia bergerak. Rambut yang digelung rendah menyingkap tengkuknya — sederhana, tapi mematikan dalam cara yang tidak ia sadari. Martin sempat terdiam, lidahnya kelu. “Hazel?” suaranya keluar pelan, lebih seperti bisikan. Hazel menoleh, tersenyum kecil. “Saya telat, ya?” Martin cepat-cepat menggeleng. “Tidak… hanya… saya kira kamu tidak akan tampil sedewasa ini.” Ia berdeham, mencoba menutupi kekagumannya yang sempat bocor lewat nada suara. “Kamu kelihatan… sesuai tema.” Hazel menaikkan alis. “Tema bumi?” “Bumi, tapi dalam versi yang… tidak bisa ditinggalkan,” sahut Martin, kemudian buru-buru menatap ke arah lain, membuka pintu mobil untuknya. Hazel menahan senyum, merasa canggung tapi entah kenapa sedikit hangat. Mungkin karena malam ini untuk pertama kalinya, seseorang melihat dirinya — bukan hanya sebagai jurnalis yang tangguh, tapi sebagai wanita. Mobil meluncur pelan melewati jalanan pusat kota yang ramai. Di luar, neon board dan lampu-lampu toko berganti-ganti, tapi Hazel menatap keluar tanpa benar-benar melihat. Dalam pantulan jendela, ia menangkap sekilas bayangan dirinya sendiri — gaun lembut, bibir dengan warna alami, dan mata yang tampak berbeda. Ia menarik napas dalam-dalam. Bukan hanya karena gugup, tapi karena malam ini… ia akan bertemu lagi dengan pria yang pikirannya masih membekas bahkan di tengah tidurnya. Diego Ronan Blake. Penasaran apa yang akan terjadi di sana nanti. Tanpa sadar, Hazel membiarkan pikirannya dipenuhi oleh pria itu. Musik mengalun lembut dari orkestra kecil di sudut ruangan, sementara kilatan kamera terus menyala setiap kali tamu penting tiba. Aroma wine, bunga segar, dan parfum mahal bercampur menjadi satu atmosfer mewah yang menyesakkan. Hazel berdiri di sisi Martin, menjaga jarak aman dari kerumunan selebritas dan pengusaha. Ia mencoba tenang, tapi jantungnya berdetak terlalu cepat untuk ukuran seseorang yang hanya datang meliput acara. Hingga satu suara rendah dan berat terdengar di dekatnya. “Earth Elemental,” suara itu seperti membelah riuh. Hazel menoleh. Diego berdiri tidak jauh darinya — mengenakan setelan hitam dengan dasi berwarna hijau lumut, nyaris menyatu dengan nuansa acara. Sorot matanya menyapu dirinya dari ujung rambut hingga ke ujung gaun, lalu berhenti di sana, seolah menilai setiap detail yang ia lihat. Hazel tahu seharusnya ia menunduk, bersikap profesional. Tapi entah kenapa, tubuhnya justru mematung. Senyum tipis Diego muncul, samar tapi berbahaya. “Sekarang aku tahu kenapa mereka memilihmu untuk wawancara,” ucapnya pelan, cukup untuk membuat bulu kuduk Hazel meremang. Hazel menelan ludah. Martin yang ada di samping Hazel sangat antusias didatangi oleh Diego, sosok yang selama ini memang susah didekati. Kalaupun ada kesempatan, banyak yang tidak berani. Entah kenapa, mereka beranggapan Diego adalah manusia flamboyan yang tak dapat ditolak oleh lawan jenisnya dan ditakuti sesama jenisnya. “Saya menugaskan Hazel karena dia memang kompeten.” Sahut Martin. Diego hanya menoleh sebentar ke arah Martin kemudian fokus ke Hazel kembali. Ia tertawa kecil, nada suaranya rendah, nyaris seperti desah. “Atau mungkin, karena mereka tahu aku akan lebih mudah berbicara… dengan seseorang yang tidak menyadari betapa menarik dirinya.” Martin menoleh dengan ekspresi antara bingung dan curiga. Hazel langsung tersenyum kaku, menatap ke arah lain, berusaha menutup panas yang tiba-tiba naik ke wajahnya. Tapi di ujung matanya, ia masih bisa merasakan tatapan Diego yang tidak pergi ke mana-mana. Hangat, tajam, dan terlalu dalam untuk dianggap sekadar sopan santun di pesta gala. Hazel menelan ludah, berusaha tetap tenang. “Saya pikir… karena saya satu-satunya yang mau menerima tugas itu.” Nada suaranya terdengar ringan, tapi jari-jarinya saling bertaut di depan tubuhnya, menyembunyikan gugup yang mulai merayap naik. Diego menundukkan kepala sedikit, seperti sedang menahan tawa yang nyaris keluar. Lalu, dari bibirnya terdengar tawa kecil — pelan, rendah, dan lebih seperti helaan napas yang memanjakan udara di antara mereka. “Lucu,” katanya pelan, “karena aku justru berpikir mereka memilihmu dengan alasan lain.” Martin langsung sedikit canggung. Apa Diego tahu kenapa dia memaksa Hazel yang datang saat itu. Hazel mengangkat alis, berusaha terdengar skeptis. “Alasan lain?” Diego mendekat sedikit, cukup untuk membuat Hazel mencium samar aroma cologne-nya — campuran kayu, anggur hitam, dan sesuatu yang hangat seperti asap api unggun. “Karena mereka tahu aku akan lebih mudah berbicara… dengan seseorang yang memiliki banyak wajah,” ucapnya, nada suaranya menurun di akhir kalimat, nyaris seperti rahasia yang hanya dimaksudkan untuknya. Seketika itu juga, darah Hazel berdesir ke seluruh tubuhnya. Ia memalingkan wajah, menatap sekilas ke arah meja minuman, pura-pura tidak mendengar. “Profesionalitas,” gumamnya pelan dalam hati, mencoba menenangkan diri, “tetap profesional, Hazel…” tambahnya lagi. Martin di sampingnya tampak mengamati mereka berdua dengan ekspresi campuran antara bingung dan curiga. Ia membuka percakapan dengan seseorang dari media lain, mencoba memberi ruang, tapi matanya sesekali melirik — seolah ingin memastikan Diego tidak sedang “melangkah terlalu jauh”. Hazel mencoba mengatur napasnya. Tapi bahkan saat ia menunduk, ia tahu Diego masih menatapnya. Tatapan itu seperti disentuhkan ke kulitnya, lembut tapi mengendap, menelusuri setiap detil dirinya dengan ketertarikan yang tidak berusaha disembunyikan. Tatapan yang membuatnya ingin menegur, tapi juga tidak ingin memutusnya. “Saya tidak tahu maksud Anda, Diego. Saya hanya memiliki satu wajah, ini saja!” “Kau tampak tidak tertarik, menolakku tapi malam ini berusaha menarik perhatianku” gumam Diego. Hazel tersenyum kaku, pria ini benar-benar membuatnya kehabisan kata-kata. Ia mencoba mencari kata. “Saya… saya hanya berusaha menghormati tema acaranya.” “Dan berhasil,” jawab Diego cepat, seperti tanpa berpikir. “Begitu berhasilnya sampai aku kesulitan melihat yang lain.” “Cocok,” ujarnya, sederhana, tapi nada di balik kata itu tidak sesederhana kedengarannya. “Warnanya membuatmu terlihat… nyata. Tidak seperti mereka.” Ia melirik ke arah para selebritas yang tertawa dan berpose di bawah cahaya lampu. “Kebanyakan dari mereka terlalu berusaha jadi bintang. Kau, sebaliknya, malah seperti bagian dari langit malam itu sendiri.” Hazel hampir tertawa, tapi tak sempat. Diego menatapnya lagi, kali ini tanpa senyum — hanya mata itu, abu-abu kehijauan, teduh tapi berbahaya. Dan sesuatu dalam tatapan itu membuat napas Hazel tertahan. Hazel menahan diri untuk tidak mundur selangkah. Suaranya berusaha tetap datar. “ Bukankah Pak Diego seharusnya fokus pada filmnya, bukan pada wartawan kecil sepertiku.” Diego tersenyum tipis — senyum yang tak benar-benar menyentuh matanya tapi justru terasa lebih mematikan karena itu. “Tahu tidak, aku pikir … aku tertarik padamu!.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN