Bab 1 - Buruan Baru
Post Dreame : Rabu (11.28), 19 Agustus 2026
Copyright © 2026 by Aya Emily
CINTA TERLARANG RATU VAMPIR
- Pertemuan -
"Tidak semua pertemuan membawa kebahagiaan. Ada pertemuan yang diam-diam membuka pintu menuju takdir, cinta, dan kehancuran."
--------------------
Amethyst menemukan buruan baru!
Setelah dua bulan menjomblo, akhirnya ada seseorang yang berhasil menarik perhatiannya. Padahal dia sudah nyaris menyerah dan hendak memutuskan pindah dari Universitas Manawa tempatnya belajar sekarang. Ah, tidak benar-benar belajar. Yang dilakukan Amy di sini hanya mengisi kebosanan. Bermain dengan manusia jelas sangat menyenangkan. Apalagi jika bisa menemukan cowok “lezat” yang bisa dijadikannya pacar untuk beberapa minggu.
Ya, Amy bukan manusia. Dirinya berasal dari klan vampir. Bukan sekedar vampir. Tapi vampir berdarah murni. Yang lahir dari keturunan sesama darah murni. Ah, lupakan!
Intinya memiliki hidup panjang terkadang cukup membosankan. Seperti yang Amy rasakan sebelumnya. Beruntung dia bisa memikirkan sesuatu untuk mengisi kebosanan. Dan kali ini melibatkan manusia. Lebih tepatnya manusia lelaki. Yang tampan dan gagah. Bermata hitam pekat dan bibir merah. Persis seperti lelaki yang duduk di sebelahnya.
Amy sama sekali tak menyembunyikan tatapan tertariknya pada Sean Sidarta, lelaki yang baru pindah ke Universitas Manawa sekitar dua bulan lalu. Dan hebatnya, ketertarikan Amy tak bersambut. Tentu saja ini kejadian langka. Karena biasanya lelaki yang disukainya akan dengan mudah bertekuk lutut. Namun sudah dua bulan berlalu, bahkan Amy selalu terang-terangan menggoda Sean, tapi yang didapatkan Amy dari lelaki itu hanya tatapan kesal. Hmm, bukankah ini sangat menantang?
Saat inipun, Amy tak berusaha menyembunyikan sorot lapar dalam matanya. Bukan lapar dalam arti sebenarnya karena dirinya vampir. Vampir berdarah murni tidak butuh darah untuk bertahan hidup. Tapi lapar yang—kau tahulah. Yang biasa ditunjukkan seseorang pada lawan jenisnya.
Tapi lagi-lagi, yang didapat Amy tidak seperti biasa. Dia tidak mendengar napas Sean tercekat atau jantungnya berdegup kencang karena gugup dan salah tingkah diperhatikan wanita yang sangat menarik seperti Amy. Yang didengar Amy beberapa menit kemudian adalah hela napas kesal sebelum mata hitam itu beralih menatapnya.
“Bisa lihat ke arah lain? Tatapanmu sangat mengganggu.”
Bukannya mengalihkan pandangan, Amy meletakkan satu siku di atas meja lalu menyangga kepala dengan satu tangan. Itu membuatnya bisa lebih bebas memperhatikan Sean.
Bukankah dirinya sangat beruntung karena kelas Kajian Sastra milik Pak Hamdan masih menggunakan penempatan tempat duduk seperti zaman SMA? Walau kursi dan mejanya dari besi dan bukannya kayu, tapi tetap saja satu bangku diisi dua kursi dan Amy beruntung duduk di sebelah si anak baru.
Ah, yang terakhir itu tidak bisa dibilang beruntung sih. Dengan pesonanya, Amy merayu Pak Hamdan agar mengizinkannya pindah tempat duduk. Dan hanya dengan tatapan sekilas, teman-teman sekelasnya akan berhenti bertanya-tanya mengapa Amy pindah.
Ups, itu salah satu kemampuan vampir Amy yang tidak boleh sering-sering ia gunakan. Karena mempengaruhi pikiran manusia, apalagi dalam jumlah banyak sekaligus, bisa dibilang melanggar aturan klan vampir. Dasar para tetua vampir dengan segala aturan rumitnya!
“Kenapa aku harus melihat ke arah lain kalau yang kulihat sekarang sangat menarik?” Amy menanggapi ucapan Sean tadi.
Meski Amy bisa mempengaruhi pikiran manusia, tapi dia tidak pernah menggunakan cara itu untuk mendapatkan pacar. Dia suka tantangan. Proses menaklukkan seorang manusia hingga mau menjadi kekasihnya yang paling membuat Amy bersemangat. Apalagi jika manusia itu tipe yang dingin, cuek, dan sulit didekati macam Sean.
Lagi-lagi hela napas Sean memenuhi pendengaran Amy. “Apa kau tidak berniat memperhatikan pelajaran?” Sean mengedikkan dagu ke arah depan, tempat Pak Hamdan sedang menerangkan. Beruntung bangku mereka berada di paling belakang hingga keduanya bisa berbicara dengan suara rendah tanpa membuat mereka jadi pusat perhatian si dosen.
“Tidak tertarik. Aku hafal semua yang dijelaskan si tua itu. Bahkan termasuk yang belum dijelaskan.” Dengan kata lain, Amy sudah berkali-kali mengambil mata kuliah ini termasuk juga beberapa mata kuliah lain yang menarik minatnya.
“Kalau begitu untuk apa kau kuliah?”
Dengan kurang ajar, tangan Amy yang tidak menyangga kepala terulur ke arah lengan Sean di atas meja. Dengan jari telunjuk dan jari tengahnya, dia membelai ringan punggung tangan Sean hingga ke lengan. “Menurutmu, untuk apa?”
Sean menyentak lengannya lepas dari jangkauan Amy lalu memusatkan perhatian ke papan tulis. Dalam hati dia bertekad akan minta pindah kelas. Sama sekali tidak sulit mengingat papanya, Ruslan Sidarta, adalah pemilik Universitas Manawa.
Penolakan Sean membuat senyum geli Amy bertahan cukup lama di bibirnya sepanjang mata kuliah yang membosankan itu. Tapi dia tak lagi mengganggu. Itu salah satu taktik yang biasa dimainkannya pada manusia yang agak sulit “didekati”. Tarik dan ulur. Hingga buruan Amy terus memikirkan dirinya dan tanpa sadar jatuh dalam pesonanya. Bukankah dirinya sangat pintar?
***
Dia pindah kelas!
Amy berdecak sambil mengunyah permen karet. Biasanya dirinya dan Sean sekelas untuk empat mata kuliah. Tapi sudah dua mata kuliah dalam dua hari ini tapi Amy tak menemukan Sean dalam kelas. Kemarin Amy pikir Sean memang tidak masuk. Lalu hari ini juga, Amy tak menemukan Sean di kelas. Tapi beberapa detik yang lalu saat Amy memasuki kantin, dia berpapasan dengan Sean yang sedang berbincang dengan seseorang dan pura-pura tak melihatnya. Saat itulah Amy menyadari bahwa Sean pindah kelas.
Amy menyandarkan bahu di dinding luar kantin dengan pandangan tak lepas dari punggung tegap Sean. Dia tengah menimbang dalam hati untuk mengikuti lelaki itu ke kelasnya tapi detik berikutnya mengurungkan niat.
Biar dulu. Biar dia membuat jarak yang diinginkannya. Besok barulah Amy akan kembali beraksi.
Esok harinya, Amy tidak masuk kelas. Dia duduk di tepian atap terbuka salah satu gedung kampus. Matanya terpejam, berusaha konsentrasi untuk mendengarkan langkah, hela napas, degup jantung, bahkan—jika beruntung—suara yang sedang dicarinya.
Secara keseluruhan, gambaran vampir dalam film-film sama sekali tak seperti kenyataan. Kaum vampir di dunia nyata lebih elegan dan hidup berdampingan dengan manusia disertai aturan-aturan. Klan vampir hidup dalam pemerintahan berbentuk kerajaan dengan seorang raja—di zaman sekarang adalah seorang ratu—yang memimpin dibantu para tetua dari vampir berdarah murni.
Apa vampir takut cahaya matahari, bawang putih, dan hanya bisa mati menggunakan pasak kayu?
Sama sekali tidak. Buktinya sekarang, sambil duduk di tepian puncak gedung, kedua tangan Amy menyangga di sisi kanan kiri tubuhnya sementara dia mendongak, menikmati cahaya matahari yang membelai wajahnya.
Bawang putih? Yang benar saja. Masakan Indonesia yang kaya rempah selalu ada bawang putih di dalamnya. Itu salah satu yang Amy sukai dari Indonesia hingga memilih menetap di sini dan bukan di negara lain. Indonesia kaya akan keragaman kuliner yang tak mungkin Amy lewatkan.
Lalu pasak kayu? Itu hanya lelucon.
Ya, vampir memang akan mati jika jantungnya robek apalagi sampai hancur. Tapi benda apapun bisa digunakan untuk melakukannya. Itu sebabnya kebanyakan vampir sedikit sensitif jika seseorang menyentuh d**a tempat jantungnya berada. Insting mempertahankan hidup mereka akan langsung terjaga. Yah, mungkin manusia juga akan bereaksi seperti itu jika ada yang menyentuh dadanya meski dalam arti yang jauh berbeda.
Hampir tiga puluh menit berada di sana, ketenangan Amy terganggu dengan suara familiar yang ditangkap indera pendengarannya yang tajam. Ini salah satu kemampuan vampir seperti banyak diceritakan dalam film. Sedikit mengganggu untuk vampir muda yang baru mendapatkan kemampuan ini karena rasanya semua suara keras berlomba masuk ke pendengarannya. Tapi dengan latihan, mereka akan bisa mengendalikan suara mana yang perlu didengar, ingin didengar, atau abaikan saja.
Amy tersenyum menikmati perpaduan suara jantung, hela napas, dan langkah kaki orang yang memang ditunggunya. Lalu perlahan matanya terbuka saat yakin Sean memasuki perpustakaan dan bukannya kelas. Itu akan lebih memudahkan Amy untuk mendekatinya.
Dalam gerak cepat yang hanya bisa dilakukan kaum non-manusia, Amy menuju perpustakaan yang berada di gedung seberang tempatnya duduk tadi. Dengan sengaja—sama sekali tak berusaha menyembunyikan maksudnya—Amy mendekati Sean lalu duduk di bangku di sampingnya yang memang kosong. Bahkan tak merasa perlu pura-pura mengambil buku dan membaca.
“Hai,” sapa Amy setengah berbisik.
Sean yang semula fokus pada bacaannya tersentak lalu menoleh ke arah orang di sampingnya. Refleks dia menghela napas dengan keras, tak berusaha menyembunyikan perasaan jengkel.
“Kenapa—”
“Kau suka sekali menghela napas seperti orang yang punya banyak beban,” kata Amy pura-pura sedih. “Kalau kau bercerita padaku, mungkin aku bisa bantu meringankannya.”
“Satu-satunya beban yang kutanggung saat ini adalah dibuntuti teman sekelasku yang tampaknya sama sekali tak punya kerjaan lain,” geram Sean. “Aku akan sangat berterima kasih kalau kau menyingkir jauh-jauh dariku.”
“Kalau aku tidak mau, bagaimana?” Amy menyeringai, senang melihat mulut Sean terbuka seolah dia tak tahu apa lagi yang harus dikatakannya.
Sean menutup buku yang dibacanya dengan keras lalu berdiri. “Kalau begitu aku yang pergi.”
Amy tak berusaha mengejar Sean. Kedua sikunya bertumpu di atas meja. Dagunya diletakkan di atas jarinya yang saling bertaut. Senyumnya merekah sementara pandangannya tak beralih dari punggung Sean yang kini berdiri membelakanginya untuk meminjam buku pada penjaga perpustakaan.
Lelaki satu ini benar-benar membuat Amy gemas. Dia sudah tak sabar menunggu detik-detik keberhasilannya menerobos pertahanan Sean. Kira-kira berapa lama Sean sanggup bertahan? Setengah tahun? Setahun? Amy berani bertaruh tidak akan selama itu.
***
“Bagaimana kuliahmu?”
Pertanyaan itu datang dari Samuel Sidarta, kakak Sean. Dan Sean tahu itu hanya sekedar basa-basi mengingat Sam lebih suka sang adik belajar bisnis dan manajemen atau semacamnya agar bisa membantu bisnis keluarga.
“Kecuali ada wanita aneh yang terus membuntutiku, semuanya baik-baik saja.”
Sebenarnya tak ada yang mengerti mengapa Sean memilih jurusan ini, kecuali sang papa. Apalagi saat Sean mengatakan dirinya bukan ingin menjadi pengarang, pengajar, editor, atau semacamnya. Dia hanya menikmati belajar sastra. Menikmati saat mengulas suatu karya. Bukan sekedar membaca. Tapi mencoba menggali secara menyeluruh emosi-emosi yang tertuang dalam suatu karya. Itu sangat menyenangkan.
“Wanita aneh?”
Sam duduk di ranjang Sean sementara Sean masih duduk di depan meja belajarnya, merangkum materi untuk besok. Dia memang suka mempelajari lebih dulu materi yang akan diajarkan sebelum dosen menjelaskannya. Itu akan memudahkan dirinya untuk menemukan hal-hal yang tidak dia mengerti.
“Seingatku kau memang magnet wanita,” lanjut Sam lalu tergelak.
Sean menutup bukunya, memutar kursi menghadap sang kakak. “Yang ini luar biasa aneh. Aku sampai pindah empat kelas untuk menghindarinya!”
Sam bersiul. “Dia pasti sangat menyukaimu.”
“Aku malah merasa seperti hewan buruan.”
Sam tergelak lagi. “Harusnya wanita yang bicara seperti itu.”
“Tunggu sampai kau bertemu wanita satu ini dan masuk dalam radar buruannya. Aku jamin kau tidak akan bisa tertawa girang seperti itu,” gerutu Sean lalu berbalik kembali menghadap bukunya.
Sam berdiri menghampiri Sean. “Sepertinya wanita itu sengaja ingin membuatmu terus memikirkannya dan dia berhasil.” Kali ini Sam berusaha menahan tawa gelinya lalu mengacak rambut Sean penuh sayang. “Ayo ke ruang makan. Yang lain sudah menunggumu untuk makan malam.”
Sean mengabaikan komentar Sam sebelumnya lalu memilih merapikan buku dan berjalan beriringan bersama Sam menuju ruang makan sambil mendengarkan cerita Sam tentang wanita yang dikencaninya saat ini.
Orang-orang mengenal Sean Sidarta sebagai pribadi yang dingin dan cuek hingga tak banyak memiliki teman. Bahkan di kampung halaman mamanya tempat dia menghabiskan masa SMA hingga kuliah semester 4 bersama sang nenek.
Tapi di balik semua itu, Sean sangat menyayangi keluarganya. Tak peduli berapa kali pun dia bertengkar dengan kedua kakaknya, Sam atau Sherly. Tak peduli berapa kali mama atau neneknya memarahinya. Tak peduli berapa kali dia mendapat teguran dari sang papa. Dia sangat menyayangi mereka.
Bagi Sean, orang luar sama sekali tak penting. Karena yang paling penting adalah keluarganya.
-----------------------
♥ Aya Emily ♥