“Jangan dulu pulang, saya mau bicara.” Hendry menahan Kinan yang saat itu hendak pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, dengan segudang kesibukan yang benar-benar menyita waktu, Kinan tidak hanya ingin segera pulang tapi juga ingin menghubungi Abid untuk menanyakan keadaan Bapak.
Kemarin bapak masih dalam tahap pengobatan awal, Kinan belum mengatakan kesanggupannya untuk melakukan pengobatan lanjutan. Keluarganya pasti sudah menunggu, apalagi Bapak yang sudah sangat kesakitan.
“Baiklah, saya tunggu di lobi.” balasnya.
“Saya harus menyelesaikan sedikit pekerjaan, nggak akan lama.”
Kinan setuju, ia segera menuju lobi untuk menunggu.
Rupanya sebentar yang dimaksud Hendry lebih dari dua puluh menit. Waktu yang terbuang sia-sia, Kinan menunggu dengan kesal dan beberapa kali mengumpat sambil menatap layar ponsel.
“Tukang ngaret, ke orang lain harus tepat waktu dirinya sendiri nggak menghargai waktu. Dasar kamprett!” umpatnya, menatap layar ponsel dan mengetuk-ngetuk nomor ponsel Hendry. Namun belum sempat Kinan menghubungi lelaki itu untuk membatalkan janji, tiba-tiba sosoknya muncul.
“Sedikit lama, nggak apa-apa kan? Tadi ngobrol dulu sebentar sama Ikbal.”
“Nggak apa-apa.” Kinan memaksa senyum.
“Kalau begitu ayo! Naik mobil kamu, capek banget kalau harus bawa mobil sendiri.” Hendry berjalan mendahului, lagi-lagi lelaki itu memanfaatkan situasi dengan tidak mengendarai mobil pribadi miliknya dengan alasan capek.
“Ngobrol sebentar itu nggak sampe dua puluh menit, dia pikir nunggu nggak bikin bete?! Eh,, ujung-ujungnya jadi supir pribadi lagi. Sial!!” Kesal Kinan, yang tentunya tidak diucapkan secara lantang namun hanya berbisik pelan takut suaranya terdengar.
“Kenapa jalannya lambat? Ayo buruan! Saya lapar, ngobrolnya sambil makan.”
“Iya, Pak.” Kinan hanya bisa menahan kesal, segera bergegas menghampiri mobil miliknya dan mengambil alih kemudi.
Bisa dibayangkan bagaimana kehidupannya nanti setelah menikah?
Hidup satu atap dengan lelaki menyebalkan dan tukang perintah seperti Hendry.
Keduanya makan malam di sebuah restoran ternama, bisa dibayangkan harga setiap piringnya diatas seratus ribu. Kinan tahu betul selera Hendry, beberapa kali ia pun ikut menikmati makanan kelas bintang lima, tapi hal tersebut tidak dijadikan patokan gaya hidupnya. Kinan memilih hidup super hemat, meskipun penghasilannya termasuk besar. Kinan tulang punggung keluarga, banyak hal yang harus dipikirkan saat hendak menghamburkan uang, tidak seperti Hendry yang tidak pernah memusingkan soal cicilan dan tanggungan.
“Jadi begini, kapan kita menikah?”
Pertanyaan yang membuat Hendry terbatuk seketika.
“Apa? Kenapa harus menikah?”
“Saya setuju dengan perjodohan kita, Pak. Artinya kita harus segera menikah.”
“Kenapa kamu jadi sangat tidak sabaran seperti ini? Bukannya kamu pernah bilang nggak ada rencana menikah dalam waktu beberapa tahun kedepan karena kamu masih memiliki banyak tanggungan?”
“Keputusan seseorang bisa berubah sewaktu-waktu, Pak. Dan saya berubah pikiran, saya ingin menikah cepat dengan Pak Hendry.” Kinan berusaha meyakinkan, namun Hendry justru semakin curiga.
“Saya butuh alasan tepat, walaupun saya memang butuh seseorang untuk dijadikan istri. Capek terus diteror Ibu, nyaris setiap hari. Tapi kalau dadakan kayak gini, saya nggak mau. Apalagi calonnya kamu, yang memegang teguh pada kekuatan cinta, sementara pernikahan yang saya tawarkan jelas nggak ada cinta di dalamnya.”
“Begini,,,” Kinan membetulkan posisinya, dengan tatapan serius layaknya menghadapi klien penting.
Hendry memang jauh lebih penting dari sekedar klien, nasib Bapak ada di tangannya.
“Bapak butuh wanita untuk dijadikan istri, saya butuh sosok suami yang bisa membantu perekonomian hidup saya artinya kita adalah win-win solution, kan?”
Cara meyakinkan Kinan masih meragukan, tatapan dan kerutan di kening Hendry masih terlihat jelas.
“Bapak bosen kan di tagih menikah sama Bu Intan? Saya adalah kandidat calon istri paling ideal, yang disetujui oleh Bu Intan. Jadi, tunggu apa lagi? Kita bisa segera menikah. Pernikahan kontrak agar Pak Hendry terhindar dari tuduhan pedang doyan pedang. Walaupun…” Kinan menekankan suaranya. “Walaupun iya,” bisiknya nyari tidak terdengar.
“Tapi Kinan,,, “ Hendry mengangkat satu tangannya.
“Bukan hanya sekedar menikah kontrak tapi saya juga nggak mungkin memperlakukan kamu layaknya suami pada istrinya.”
“Nggak apa-apa. Saya nggak keberatan.”
“Tapi Kinan..”
“Intinya saja, Pak. Mau nggak nikah sama saya?”
“Ya,, mau tapi..”
“Perjanjian pernikahan bisa kita bahas nanti, sekarang saya hanya butuh persetujuan Bapak mau menikah dengan saya atau tidak.”
“Ya,,, saya mau menikah sama kamu.”
“Oke, deal. Tunggu sebentar, saya mau nelpon orang rumah dulu.”
Belum sempat Hendry menjawab, Kinan sudah lebih dulu meninggalkannya.
Saat itu juga Kinan menghubungi Abid, memberi kabar untuk melanjutkan pengobatan Bapak sesegera mungkin. Kinan sudah dapat jaminan untuk kelangsungan pengobatan Bapak dan biaya pendidikan Abid.
Kinan berhasil mengikat dirinya dengan kontrak pernikahan yang ditawarkan Bu Intan juga oleh Hendry. Keduanya sama-sama menawarkan konsep pernikahan kontrak tapi dengan tujuan berbeda. Bu Intan ingin Kinan berusaha mengubah Hendry dari penyimpanan yang dialaminya, membantu lelaki itu kembali pada kodratnya sebagai lelaki tulen. Sementara pernikahan kontrak yang ditawarkan Hendry justru untuk menghindari gosip dan tuntutan sang Ibu.
Tidak apa, Kinan sudah memikirkannya ratusan kali. Lebih baik menikah kontrak daripada ia harus menjual diri.
“Jadi, kapan kita bisa menikah? Secepatnya kan?”
“Sabar, Kinan. Jangan terburu-buru, bahkan kamu belum menghabiskan makananmu.”
“Aku udah nggak sabar pengen cepat-cepat dapat uang, ehh makanya menikah.” Kinan tersenyum samar.
“Tapi kamu tahu kan, aku nggak suka wanita?”
“Tahu, tapi bukan selamanya nggak suka wanita kan? Belum coba jangan bilang nggak suka, Pak.”