Bab 1. Tawaran menggiurkan
“Mau jadi menantu saya?”
Tawaran yang sudah satu bulan berlalu, Kinan harap masih berlaku untuknya.
Ia mengabaikan, merasa tawaran itu terlalu konyol untuknya namun saat ini, di sebuah restoran mewah ia menemui wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik, untuk membahas penawaran itu.
Tawaran menjadi menantunya.
“Jadi,, kenapa tiba-tiba kamu menerima tawaran saya?” tatapan Bu Intan mengintimidasi, seperti sensor yang mendeteksi tubuh Kinan dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Tawaran Ibu pasti memiliki keuntungan untuk kedua belah pihak, kan? Nggak hanya untuk saya tapi juga untuk Ibu dan Hendry.” dalam situasi seperti ini pura-pura tidak akan berlaku, jujur dan saling menguntungkan adalah tujuan utamanya.
Intan pasti tahu bagaimana kondisi putranya saat ini, yang tidak kunjung menikah di usianya yang sudah sangat matang untuk berumah tangga. Isu mengenai penyimpanan sejak zaman sekolah dulu masih santer terdengar walaupun tidak banyak bukti yang bisa menguatkan tuduhan. Tapi kekhawatiran seorang ibu sangat besar, ketakutan yang menghantui dan bisa saja jadi kenyataan jika dibiarkan tanpa usaha mengobati.
Opsinya tetap mencari wanita ideal yang bisa menyembuhkan penyimpanan anaknya, tapi kandidatnya tidak banyak.
Pastinya ada banyak wanita yang bersedia menjadi calon menantunya, tapi sedikit yang mau menerima kenyataan bahwa Hendry mungkin tidak tertarik pada lawan jenis.
“Benar.” wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu tersenyum samar dan mengangguk.
“Kamu adalah kandidat paling ideal untuk Hendry, kalian dekat, saling mengenal satu sama lain dan satu lagi, kamu tahu persis bagaimana kekurangan Hendry.”
Kinan semakin tidak sabar, poin utamanya hanya menikah dan ia akan menikmati kekayaannya suaminya, Hendry.
“Ayah kamu sakit keras, adikmu baru mau masuk universitas, keduanya butuh biaya besar dan tawaran saya pasti menggiurkan, kan?”
“Benar. Saya butuh uang, saya tidak akan berpura-pura.”
“Bagus. Kita berdua harus jujur.”
Obrolan semakin menuju inti, Kinan gelisah sekaligus tidak sabar.
“Kamu dan Hendry menikah, buat dia kembali menyukai wanita. Caranya terserah, karena pada dasarnya kalian berdua sudah resmi menikah dimata agama, lakukan apapun agar Hendry bisa kembali normal.”
“Lalu setelah itu? “
Kinan yakin akan ada part selanjutnya, tidak mungkin hanya sebatas menikah dan membuat Hendry kembali normal. Sangat mustahil keluarga kaya raya seperti mereka mau menerima menantu dari kalangan miskin seperti dirinya. Kinan sangat realistis dan tahu itu.
“Setelah itu kalian bisa cerai, Hendry melanjutkan hidupnya sebagai lelaki normal dan kamu dapat menyelesaikan masalahmu tanpa harus mencari pinjaman kesana-sini.” Intan menatap penuh selidik.
“Bagaimana? Setuju? Kamu tidak menjual diri, kamu dan Hendry menikah.”
Sungguh kesempatan yang sangat bagus ditengah himpitan ekonomi yang menjadi masalah utama hidupnya, tapi dengan menikah dan berusaha menyembuhkan penyakit seseorang rasanya cukup membebani.
“Ini hanya kesepakatan antara kita berdua, Hendry tidak boleh tau rencana kita dengan perjodohan ini. Kamu hanya perlu meyakinkan dia, bahwa kamu sudah mencintainya sejak lama, hanya tidak berani mengungkapkan. Bagaimana?”
Kinan terdiam sejenak, memegang erat ujung kemejanya, menahan gejolak asing dalam diri.
“Keluargamu butuh uang, Kinan. Kamu nggak punya cara lain untuk menolong mereka. Menikah bukan termasuk dalam kategori jual diri,” Intan meyakinkan.
“Bagaimana? Setuju? Saya akan membantu pengobatan Ayahmu, saya punya kenalan dan dokter terbaik di Malaysia. Gimana?”
Kedua mata Kinan langsung berbinar, negara tetangga menjadi incarannya sejak tahun kondisi kesehatan Bapak. Dari beberapa pengalaman orang yang pernah menderita penyakit kanker, Malaysia adalah salah satu negara tujuan berobat yang cukup terkenal. Kinan ingin sekali mencobanya.
“Jadi, gimana? Setuju, kan?”
***
“Kinan, tolong bawakan file yang kemarin ke meja saja.” perintah itu terdengar nyaring melalui sambungan telepon membuat Kinan segera bergegas mengambil asal tumpukan map yang ada di hadapannya.
Buru-buru mengetuk pintu berwarna hitam yang tak jauh dari meja kerjanya, setelah mendengar suara dari dalam sana barulah Kinan berani masuk.
“Ini Pak.” Kinan segera mendekat.
“Ini apa?” Hendy menatap ke arah Kinan.
“File yang bapak minta barusan, kan?”
“Bukan yang ini, Kinan. Yang kemarin,” Hendry menutup kembali map berwarna merah muda, melempar asal ke arah Kinan.
“Saya bilang file yang kemarin, kontrak kerja sama dengan perusahaan Kosmetik terbaru.”
“Oh yang itu,,, tapi Filenya nggak ada di saya, Pak.”
“Dimana?”
“Saya nggak tahu, kemarin kan..”
“Cari!” perintahnya.
“Tapi, kita baru membahasnya kemarin Pak. Kemungkinan file tersebut masih diproses di divisi lain.”
“Saya bilang cari!” sengak Hendry, yang membuat Kinan berjengit.
“Baik, Pak.” Kinan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bukan pelupa, bahkan selalu mencatat hal-hal yang bersifat sangat penting. Dalam kondisi banyak pikiran pun, Kinan akan selalu memprioritaskan pekerjaannya yang menjadi satu-satunya sumber penghasilan untuk menghidupi dirinya dan keluarganya.
“Saya cari ke Divisi lain, siapa tau ada di mereka.”
“Cepat cari!!”
“Baik, Pak.”
Kinan segera beranjak dari tempatnya menuju pintu, tapi hanya beberapa langkah saja sebelum akhirnya Kinan kembali menghampiri Hendry.
“Pak Hendry, mau menikah sama saya?”
Hendy yang tengah menatap serius layar komputer langsung menoleh seketika.
“Apa?”
“Bapak mau menikah dengan saya?”
“Kamu salah makan? Atau kamu kesambet? Atau jangan-jangan kamu diancam ibu saya supaya mau menerima perjodohan?” Hendry kebingungan, sebab beberapa waktu lalu saat ibunya tiba-tiba menawarkan pernikahan pada Kinan, wanita itu jelas menolak mentah-mentah.
“Nggak, Pak. Saya nggak di ancam apa-apa sama Ibu. Justru saya merasa dapet kesempatan untuk menikah, sebab selama ini saya sudah menaruh hati sama Pak Hendry. Jadi, gimana? Mau menikah sama saya?”