BAB 8

1145 Kata
Hening... Di dalam perjalanan hanya terdengar suara gemuruh mesin mobil, sesekali terdengar suara klakson pengendara lain. Yuna masih tetap dengan posisinya diam menatap ke arah jendela, sambil meremas ujung bajunya. Sedangkan Renan dia masih tetap fokus menatap jalan, karena jalan yanh cukup ramai malam itu, walaupun sesekali menoleh kearah Yuna, melihat ekspresi wanita itu. Renan memutar setir mobilnya ke kanan, ia menuju ke sebuah tempat yang tidak terlalu ramai pengendara. Masih dengan kecepatan sedang, ia melihat Yuna seperti kedinginan. Renan pun mematikan AC mobilnya, agar Yuna tidak kedinginan. "Dingin ya?" tanya Renan. "Hah? Oh gak," jawabnya salah tingkah. Yuna langsung memalingkan wajahnya, hanya di tanya seperti itu saja kenapa dia tampak gugup? Akh si-al pasti Renan kepedasan kalau begitu caranya. "Yakin gak kedinginan?" tanya Renan memastikan, tanpa basa-basi langsung saja Renan itu memegang tangan Yuna yang sangat dingin. Ia genggam tangan Yuna erat, hingga membuat Yuna menahan napas, seolah semesta tidak mengijinkannya untuk menghirup oksigen. "Katanya gak dingin, ini tanganya dingin banget Na," papar Renan sambil meremas-remas tangan Yuna, dengan sebelah tangannya tetepan memegang setir, tatapannya pun masih terfokus ke depan menatap jalan, hanya sekilas Renan melihat Yuna. Tubuh Yuna membeku, saat dirinya di sentuh oleh Renan. Seolah aliran darahnya mengandung listrik yang mulai tersebar ke seluruh tubuhnya. Yuna hanya diam, dia tidak bergeming, hanya duduk tegak dengan kepala sedikit menunduk, seolah dia tersangka. Renan menyadari semua itu, saat dirinya memegang tangan Yuna. Ia bisa merasakan betapa terkejutnya Yuna, tapi dia tidak mencoba menepi, Yuna tetap membiarkan tangan Renan berada di sana. Ada senyum tipis dari raut wajah Renan, yang hayang dia dan tuhan yang tahu. Renan meminggirkan mobilnya dan berhenti, ia segera membuka jas yang ia kenakan dan memakaikan pada Yuna. Yuna terkejut dengan sikap manis Renan, bagaimana perempuan inj selalu tidak meleleh jika sedang bersama Renan. Dari dulu Renan tetap sama, selalu bersikap manis pada Yuna. Tubuh Renan mendekat ke arah Yuna untuk memakaikan jasnya. Tatapan mereka bertemu, Yuna sampai menahan napas saat jarak mereka begitu dekat. Aroma tubuh Renan tercium oleh Yuna, tidak ada yang beda dia masih memakai parfum yang Yuna suka. Tatapa Renan sedikit menyendu, seperti ada dorongan untuk lebih dekat. Bukan Renan namanya jika tidak nekat, ia mengikuti nalurinya sebagai pria. Ia tatap bibir mungil Yuna yang menggoda itu. Namun, saat ke dua bibir mereka akan bersatu. Tangan Yuna menahan d**a Renan untuk menggagalkan rencananya. "Mas..." Suara lirih Yuna begitu terasa merdu di telinga Renan. Renan pun segera menyadarkan otaknya agar tidak melakukan, hal yang tidak membuat Yuna risih. "Maaf, aku hampir kelepasan. Pakai jas ini." Yuna menelan ludahnya kasar, ia hanya diam saat jas Renan menutupi tubuhnya yang mungil. Renan kembali melajukan mobilnya. Di dalam perjalanan, Yuna tampak ragu-ragu untuk membuka suara. "Kenapa? Mau tanya apa?" tanyanya. Yuna terkejut, kok bisa Renan bisa menebak jika ada yang ingij Yuna tanyakan. "Kok mas tahu?" tanyanya. Renan tersenyum tipis mendengarnya. "Tentu aku saja tau Na, aku sudah mengenal mu luar dalam," balasnya sambil menatap Yuna sekilas dengan mengedipkan sebelah matanya. Reflek melihat Renan seperti itu, tangannya menutupi dadanya dan sedikit menjauh. Renan menaikkan sebelah alisnya heran. "Kenapa di tutup? Toh ukuran dadamu masih tetap sama tidak ada yang beda." Yuna di buat megap-megap dengan ucapan m***m Renan. Bisa-bisanya dia bilang ukuran dadanya masih sama. "Mas..." Renan tertawa melihat Yuna dengan wajah protesnya. "Apa sayang?" Jawabnya lembut. "Mas apasih? Kita udah gak ada apa-apa, kalau kamu lupa!" Perigat Yuna. "Justru saya gak lupa, saya masih tetap sayang sama kamu Yuna," balas Renan dengan menatapnya sekilas. Tentu saja itu membuat Yuna terdiam, hening sejenak. Yuna langsung memalingkan wajahnya menatap jendela mobil. "Cie yang salting," goda Renan sambil mencolek dagu Yuna. Kali ini Yuna tidak diam, dia menepis tangan Renan cukup kasar. "Apa sih jangan pegang-pegang!" protesnya sambil mendelik. Bukannya tersinggung Renan justru gemas melihat Yuna ngambek. "Iya, iya gak di pegang sekali," kekehnya. Yuna berdecak kesal, sambil melipatkan ke dua tangannya di depan d**a. "Mas kamu itu maunya apa sih!" "Maunya kamu!" Kata Renan dengan mengedipkan sebelah matanya. Yuna memijit pelipisnya yang terasa sakit, kenapa dia harus berurusan dengan mantan suaminya? Akhirnya Renan memarkirkan mobilnya di dekat pantai. Membuka seat beltnya, lalu saat ia akan membantu Yuna membuka seat beltnya, Yuna menolak. "Aku bisa sendiri!" ketusnya, yang langsung keluar dari mobil itu. Renan tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Gemes banget sih!" Renan berjalan mengikuti Yuna yang sudah berjalan lebih dulu. Ia mengernyitkan keningnya heran dengan arah jalan yang Yuna tempuh. "Yuna kamu mau ke mana?" tanya Renan. Langkah Yuna terhenti, ia melihat ke kanan dan ke kiri. Bodohnya dia malah berjalan menuju jalan toilet, Yuna menggaruk kepala yang tidak gatal, bisa-bisanya dia berjalan ke sini, tatapannya benar-benar kosong hingga tidak sadar kemana arah kakinya berjalan. Sebuah tangan besar dan kekar mencengkram lengan Yuna dengan lembut. Yuna langsung menoleh dan mendapati Renan. "Kamu mau ke mana? Mau ke toilet dulu?," tanya Renan. Demi menahan malu, padahal sebenarnya dia tidak berniat untuk ke toilet. "I-iya aku ke toilet dulu sebentar." "Ok, aku tunggu sini ya. Takutnya kamu nyasar," ucap Renan, entah itu berupa sindiran atau apa. Tapi Yuna segera masuk ke dalam toilet. Dia menatap dirinya di cermin, menyalakan air wastafel, dan membasuh wajahnya. "Ish bisa-bisanya sampai kaya gini!" Gerutunya. Tidak berlama-lama di dalam toilet, Yuna segera keluar dari sana. Benar saja Renan setia menunggu di luar sambil menyandarkan punggungnya di dindin, 'akh begitu pemandangan yang indah'. Yuna sempat terpesona beberapa saat pada Renan, sebelum dia sadar keberadaan Yuna. "Udah?" Yuna mengerjap dan menganggukkan kepalanya. "Udah." Renan segera menghampiri Yuna dan berdiri di depannya. "Kita ke sana yuk." tunjuk Renan pada sebuah spot yang cukup nyaman untuk mengobrol. Yuna hanya mengangguk. Sebelah tangn Renan kembali memegang lengan Yuna untuk saling bertautan. Hanya saja Yuna menolak, bukan tanpa alasan. Tapi Yuna takut saja, rasa yang belum selesai itu kembali menghantuinya. "Ok, gak akan aku pegang." Renan mengalah, ia mulai berjalan di samping Yuna, begitupun dengan Yuna yang mengikuti langkah Renan. Mereka duduk dengan pemandangan ombak di malam hari. Angin laut yang menerpa mereka, seolah menjadi saksi pertemuan mereka kembali. "To the point aja, jadi kamu mau ngomong apa?" tanya Yuna tidak mau berlama-lama. "Aku minta maaf." Tatapan Renan berubah menjadi nanar, bisa Yuna rasakan rasa penyesalan Renan waktu itu. "Untuk apa?" "Semuanya, aku udah salah banget sama kamu, maaf..." Yuna menghela napasnya kasar, ia memalingkan wajahnya menatap ombak. Napasnya terasa berat, dadanya pun ikut sesak. Memori lima tahun lalu kembali berputar di dalam pikirannya. "Yuna..." "Tidak ada yang perlu kita bahas lagi, semua sudah terlambat mas." Mendengar itu wajah Renan berubah panik, ia tidak mau kehilangan Yuna ke dua kalinya. "Yuna, aku mohon..." pintanya. Yuna tidak sanggup jika harus berlama-lama di sana. Ia tidak mau melihat Renan melihatnya menangis. "Maaf mas, aku gak bisa." Dengan tegas Yuna menolak, ia beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya pergi. Renan tidak tinggal diam, ia menarik tangan Yuna membawanya masuk ke dalam dekapannya. "Jangan pergi please." ____________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN