"Yuna terima kasih, jika tidak ada kamu. Ibu gak tau akan seperti apa," ucap bu Murni yang berterima kasih pada Yuna, karena telah membantunya.
"Sama-sama bu, sudah menjadi kewajiban kita saling membantu. Ibu jangan sungkan meminta bantuan saya," ucap Yuna sambil menggenggam tangan ibu Murni.
Bu Murni tersenyum tipis, wajahnya pucat karena penyakit lambungnya kembali kambuh. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu beberapa kali, Yuna dan bu Murni saling tatap heran. Siapa di jam seperti ini tamu yang datang?
Yuna menoleh ke arah bu Murni. "Bu itu siapa?" Tanya Yuna. "Anak ibu?" sambungnya.
Bu Murni langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Bukan, anak ibu sedang bekerja di luar kota. Ibu juga tidak tahu siapa," balasnya dengan tatapan heran.
Karena terakhir kali yang datang adalah mantan suami Bu Murni. Dengan keadaan mabuk, mantan suami bu Murni meminta uang untuk judi online.
"Apa itu adik bu Murni?" tanya Yuna menerka-nerka.
Bu Murni menautkan ke dua alisnya dengan tatapan ragu. "Kalau adik ibu, pasti dia hubungi dulu ibu. Memastikan apa ibu ada di rumah apa gak," jelas Bu Murni.
"Terus itu siapa? Mungkin yang mau kos bu? Biar Yuna buka," ucap Yuna beranjak dari tempatnya.
Namun, bu Murni langsung memegang tangan Yuna. "Tunggu, ibu takut kalau itu mantan suami ibu," ucap bu Murni dengan tatapan cemas.
Yuna menoleh dan menatap bu Murni dengan bingung. Ia menggigit bibir bawahnya, Yuna pum merasa ragu untuk membuka pintu tersebut. Yuna kembali duduk di sebelah bu Murni, ia mengeratkan tangannya.
"Jadi kita biarkan saja bu? Tidak mau di lihat dulu? Siapa tahu bukan mantan suami ibu," papar Yuna.
Bu Murni tampak bingung, di sisi lain dia ingin tahu siapa yang datang, tapi di sisi lain juga dia takut jika mantan suaminya yang datang kembali.
"Tapi ibu takut Yuna," ungkapnya dengan tatapan nanar.
Yuna tersenyum tipis, "Ibu tidak perlu takut, ada Yuna di sini. Lagi pula kalau itu mantan suami ibu, kita tinggal teriak saja bu, agar warga datang kesini."
Mendengar penuturan Yuna, akhirnya Bu Murni menganggukan kepalanya pelan. "Kalau gitu hati-hati nak. Jika, itu mantan suami ibu, usir dia," pinta Bu Murni.
Yuna mengangguk dengan tegas, "Kalau gitu aku buka dulu pintu," ujar Yuna sambil beranjak dari tempat duduknya.
Yuna melangkah perlahan, menelan ludahnya kasar. Tatapan tampak waspada, ia mengikat rambutnya terlebih dulu. Mendengar suara ketukan yang terus-menerus, Yuna sedikit bergegas mendekati pintu rumah. Sebelum ia membuka pintu, Yuna tempelkan daun telinganya pada pintu untuk mendegar suara, memastikan kalau itu bukan mantan suami bu Murni.
"Kayanya bukan mantan suami Bu Murni." Yuna segera merapihkan pakaian dan rambutnya. "Iya sebentar..." ucapnya sedikit berteriak dari bali Pintu.
Yuna memutar kan gagang pintu itu, untuk membuka pintu rumah. Matanya terbelalak saat Yuna menatap siapa yang ada di hadapannya.
Begitu juga dengan Renan dan Tama yang terkejut melihat Yuna ada di hadapannya. Apalagi Tama mulutnya sedikit ternganga melihat Yuna yang ada di depannya.
"Yuna?" Bukan suara Renan yang keluar, tetapi Tama. Dia benar-benar syok melihatnya, ternyata Renan tidak berbohong, Yuna benar-benar hidup.
"Kamu benar Yuna? Kamu masih hidup? Kamu bukan hantu kan?" papar Tama, membuat Yuna mengernyit.
Yuna mengernyit, dia tidak mau mengaku sebagai Yuna, di hadapan mereka. "Maaf mau ke siapa ya?" tanya Yuna.
"Yuna..." Kali ini Renan yang membuka suara.
Yuna memberanikan diri untuk menatapnya, untuk meyakinkan kalau dia benar-benar bukan Yuna.
"Mau ke siapa ya? Di sini tidak ada yang bernama Yuna," elaknya.
Renan langsung memegang tangannya. Yuna membulatkan matanya tersentak saat Renan dengan beraninya memegang tangannya.
"Kamu Yuna ku, ini aku Yuna. Renan!" ucap Renan sambil menunjukkan dirinya pada Yuna.
Yuna mundur satu langkah saat Renan mendekatinya. "Maaf tapi saya gak kenal, mungkin anda salah orang," tepis Yuna pada tangan Renan.
"Aku gak mungkin salah orang, aku kenal sama kamu. Kamu Yuna ku," ucap Renan bersikukuh.
"Maaf anda salah orang, silahkan pergi," pinta Yuna sambil ingin menutup pintu rumah. Namun, Renan sudah menahan agar pintu tidak tertutup.
Tenaga Yuna tidak sebanding dengan Renan, ia sulit untuk menutup pintu rumah. Sudah dengan sekuat tenaga tapi tetap saja Yuna kesulitan.
"Jika kamu bukan Yuna kenapa kamu menghindar hmm?" ucap Renan, membuat Yuna membeku.
Bu Murni berangjak dari tempat tidurnya, ia mendengar suara keributan. Dengan tubuh yang masih lemah, Bu Murni memksa untuk segera keluar dari kamarnya melihat siapa yang datang.
"Yuna siapa yang datang?"
Gagal sudah rencana Yuna, saat Renan menoleh ke arah bu Murni yang memanggilnya. Tatapan Renan langsung terpaku pada seorang wanita paruh baya yang tampak sedang sakit, memanggil nama Yuna.
Bu Murni berjalan mendekati mereka. "Yuna siapa mereka?"
Nama Yuna sudah begitu jelas di telinga Renan. Kali ini Yuna, tidak bisa mengelak lagi dari Renan, lelaki itu tersenyum tipis saat Yuna sudah tidak berusaha menutup pintu. Membuat Renan langsung melebar pintu itu selebar-lebarnya.
"Maaf bu, saya Renan. Ingin menemui Yuna," ucap Renan yang langsung berbicara pada bu Murni.
Wajah Bu Murni sempat bingung karena melihat respon Yuna yang seperti itu, ia terus menunduk tanpa membuka suara. "Oh, maaf kalau boleh saya tahu, kamu siapanya Yuna?" tanya bu Murni.
Renan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Bu Murni. "Perkenalkan nama saya Renan, Saya mantan suami dari Yuna. Kedatangan saya ke sini, ada yang ingin saya bicarakan kepadanya," jelas Renan.
Terlihat dari ekspresi bu Murni masih terkejut, sambil menggenggam tangan Renan. "Mantan suami?"
"Iya saya mantan suami Yuna, saya pinjam dulu Yunanya sebentar ya Bu. Bolehkan?" tanya Renan dengan tatapan meminta.
Tentu saja, Bu Murni tidak memiliki hak, untuk menolak permintaan Renan. Ia sempat menatap Yuna yang masih saja diam, dengan kepalanya sedikit menunduk.
"Hmm, kalau ibu tergantung dari Yunanya saja, saya tidak bisa melarang. Karena itu urusan kalian berdua," jawab Bu Murni.
Renan tersenyum lebar, kali ini Yuna tidak bisa menolak. Mau tidak mau Yuna harus ikut dengan Renan.
"Yuna."
Mendengar suara Renan detak jantung Yuna langsung tidak karuan. Tangannya menggenggam erat ujung bajunya, keringat kecil keluar dari pelipisnya. Perlahan ia menatap ke arah Renan yang menyebut namanya.
"Kita harus bicara, tolong ikut aku," pinta Renan dengan wajah memelas.
Yuna menoleh sebentar ke arah Bu Murni, tatapannya seolah meminta pendapat dari wanita paruh baya itu. Bu Murni pun menganggukan kepalanya pelan, entah pendapatnya ini benar atau tidak, tapi melihat sikap Renan yang baik, bu Murni yakin jika Renan tidak akan menyakiti Yuna.
Tatapan Yuna pun kembali ke arah Renan, sebelum dia mengangguk. Yuna menelan ludahnya kasar, yang berujung Yuna mengikuti langkah Renan.
"Permisi bu," pamit Renan yang hanya di angguki oleh bu Murni.
Kini mereka berjalan menelusuri gang untuk menuju mobil Renan. Tidak lupa Renan menggenggam tangan Yuna dengan erat, takut kalau Yuna akan pergi lagi.
Renan segera membukakan pintu mobil untuk Yuna, ia pun segera mengitari mobilnya untuk segera masuk ke tempat pengemudi.
"Woy Renan!" teriak Tama yang terlupakan.
Renan segera menoleh dan menepuk jidatnya, lupa dengan keberadaan sahabatnya itu. "Lu balik pake taxi online aja ya, ongkosnya nanti gua ganti. Ini lebih penting." Tanpa banyak basa basi Renan langsung pergi meninggalkan Tama sendiri.
"Sialan bener dah punya temen!"
______________