Keesokan harinya. Amanda terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh perasaan hangat yang mengendap di dadanya. Ia menatap langit-langit kamar, menyadari sesuatu yang sederhana namun mengejutkan, ia tidak lagi terbangun dengan sesak. Rasa kehilangan itu masih ada, menetap seperti bayangan, namun kini ia tidak lagi sendirian menanggungnya. Ia bangkit, membuka jendela, membiarkan udara pagi masuk. Di halaman bawah, Rangga sudah berdiri, berbicara singkat dengan sopir sebelum akhirnya menyadari keberadaan Amanda di lantai atas. Tatapan mereka bertemu. Rangga mengangguk kecil, senyum samar tersungging di bibirnya. Amanda membalasnya, refleks, tanpa berpikir. Senyum itu terasa alami, terlalu alami untuk sebuah kebetulan. Di meja makan, suasana terasa berbeda. Tidak lagi kaku, tidak pula canggu

