Minggu berikutnya datang dengan ritme yang perlahan namun konsisten, seolah hidup memberi Amanda waktu untuk menyesuaikan napasnya sendiri. Pagi-pagi tidak lagi terasa seperti medan perang yang harus ditaklukkan. Ia bangun dengan kesadaran penuh, menyeduh kopi, duduk sejenak di meja makan tanpa merasa dikejar bayangan masa lalu. Kehilangan itu tetap hadir, tetapi kini ia tidak lagi mendominasi setiap sudut pikirannya. Rangga tidak berubah secara drastis, dan justru itu yang membuat Amanda merasa aman. Ia tetap Rangga yang tenang, yang tidak berlebihan dalam perhatian, yang tahu kapan harus mendekat dan kapan memberi jarak. Kadang mereka sarapan bersama, kadang hanya saling bertukar pesan singkat sebelum berangkat ke kantor. Tidak ada kewajiban. Tidak ada tuntutan. Di kantor, dinamika mer

