Bab.48 Belajar Melepaskan Nalendra

971 Kata

Pintu kamar itu tertutup perlahan setelah Rangga pergi. Suara langkah kakinya menjauh, menyisakan keheningan yang kembali menyelimuti ruang itu. Amanda masih duduk di tepi ranjang, kedua tangannya menggenggam foto Nalendra erat-erat, seolah takut kenangan itu ikut menghilang jika ia melepasnya. Cahaya pagi menyelinap lewat celah tirai, jatuh tepat di wajah Nalendra dalam foto. Senyumnya tampak begitu hidup, terlalu hidup untuk seseorang yang telah pergi. Amanda menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. Ia menempelkan foto itu ke d**a, memejamkan mata. “Mas… aku capek,” bisiknya lirih, suaranya hampir tak terdengar. “Aku nggak tahu harus kuat sampai kapan.” Tak ada jawaban, tentu saja. Hanya sunyi yang kembali membalas. Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya, sunyi itu tak terasa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN