Enam bulan setelah kepergian Nalendra yang begitu mengejutkan, waktu berjalan tanpa pernah benar-benar menunggu Amanda. Hari-hari tetap berganti, matahari tetap terbit di timur, dan malam tetap turun dengan sunyi yang panjang, sementara di dalam dirinya, segalanya seakan berhenti tepat di hari Nalendra pergi. Rumah keluarga Darwis masih sama, megah, rapi, penuh aturan, namun bagi Amanda, setiap sudutnya menyimpan gema kenangan yang tak pernah berhenti memanggil namanya. Kamar tamu yang ia tempati malam itu dipenuhi koper-koper terbuka. Gaun kerja, kemeja sederhana, mantel musim gugur, semuanya dilipat rapi seolah Amanda berusaha menata hidupnya kembali, meski tangannya gemetar. Di sela pakaian-pakaian itu, ia menyelipkan sebuah bingkai foto kecil. Foto Nalendra. Senyumnya hangat, sorot ma

