Pintu kamar Rangga tertutup perlahan di lantai atas, meninggalkan gema yang panjang di rumah besar itu. Keheningan turun seperti selimut tebal, bukan keheningan yang damai, melainkan yang sarat oleh sisa-sisa luka dan kebenaran yang baru saja terbuka. Amanda berdiri terpaku. Dadanya naik turun, seolah baru saja lolos dari tenggelam yang lama. Kakinya terasa lemas, dan sebelum ia sempat menyadarinya, Nalendra sudah berada di hadapannya, menangkap tubuhnya yang hampir goyah. “Hey…” suara Nalendra rendah dan lembut. Tangannya menguat di punggung Amanda, menahannya agar tetap berdiri. “Tarik napas. Aku di sini.” Kalimat sederhana itu seketika meruntuhkan benteng terakhir di hati Amanda. Ia menunduk, lalu tanpa sadar mencengkeram kemeja Nalendra, menangis terisak di dadanya. Semua emosi yang

