Bab 1. Hal buruk datang berturut-turut
Di sebuah Rumah sakit ternama di Ibukota, terlihat seorang Pasien berbaring tak berdaya di atas brangkar.
Beberapa selang menempel pada tubuhnya. Sudah hampir 8 bulan, Pasien bernama Salmah ini tak sadarkan diri dari Koma-nya, setelah jatuh dari kamar mandi.
Salmah Alvina menderita darah tinggi, hingga menyebabkan serangan jantung menimpanya. Disana Ia hanya di temani Putrinya, yaitu Maura Nasya yang seringkali datang menjenguknya.
Dengan bantuan pengobatan gratis dari Rumah sakit, Maura sangat bersyukur.
Setidaknya bisa mengurangi pengeluaran.
Malam ini, Maura membasuh tubuh Ibunya sebelum dirinya berangkat kerja.
Belum lama ini Maura bekerja di tempat karaoke di Kotanya. Ia terpaksa bekerja sebagai LC, karena ia di pecat dari tempat kerja sebelumnya.
Selama satu bulan menjalani hidup sebagai LC, Maura cukup merasa bersalah pada dirinya sendiri. Namun tidak ada cara lain untuk Maura bisa mendapatkan uang.
Apalagi di tengah-tengah kondisi Ibunya yang sedang tak berdaya.
Malam ini, Maura baru saja mendapat pelanggan yang memintanya untuk di temani berkaraoke. Maura pun memasang senyum, demi membuat pelanggannya senang.
Beberapa dari mereka ada yang mengajak Maura ke Hotel untuk cek in. Ada pula yang ingin mengajaknya jalan-jalan ke luar kota. Namun itu semua Maura tolak, karena ia harus menjaga Ibunya.
Maura yang cantik membuat banyak Pria ingin di temani untuk karaoke. Hal itu tentu membuat rekan LC lain merasa iri padanya.
Kesya, adalah teman Maura yang memiliki rencana busuk untuk mencelakai Maura. Malam ini ia memberikan seorang pelanggan Tua sekaligus kasar pada Maura.
Seperti biasa, Maura menemaninya bernyanyi dan sedikit minum. Tiba-tiba Pria itu memeluk dan ingin mencium Maura. Ia lalu menolaknya secara baik-baik.
Namun siapa sangka, Pria tua itu menampar wajah Maura dengan sangat keras. "Dasar sok jual mahal! Memangnya kamu sesuci itu, sampai nggak mau aku sentuh?" Umpat Pria tua itu, bernama Broto.
"Maaf, saya hanya menemani nyanyi dan minun aja, Pak." Maura mengernyit, memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
"Heh, bilang sama Mami. Memang berapa juta harga dirimu selama satu malam???" Broto kini menarik dan menjambak rambut Maura, lalu melemparnya ke lantai.
Maura hanya bisa menangis, saat dahinya mengenai sudut meja yang tajam.
"Maafkan saya, Pak. Jangan pukul saya!" Ucap Maura memohon.
"Tck, sialan. Aku nggak akan datang kesini lagi. Mengecewakan!!!" Setelah puas memukuli Maura, Pria tua itu akhirnya keluar.
Sementara itu, akibat keributan yang terjadi, Maura di marahi habis-habisan oleh pemilik Bar dan karaoke tersebut.
Ina, adalah pemilik tempat tersebut. "Pergi kamu, dan jangan pernah datang kesini lagi! Kalau sikapmu seperti ini terus, bisa bangkrut bisnisku!!!" tak ada belas kasihan, Mami Ina langsung mengusir Maura saat itu juga.
Tepat pukul 11 malam, Maura akhirnya keluar dari Bar tersebut. Rupanya ini bukan pertama kalinya Maura mendapat perlakuan kasar di tempat kerjanya. Selama ini ia kerap di perlakukan buruk oleh beberapa tamu, juga teman kerja lainnya yang tidak suka dengan kehadiran Maura.
Maura hanya berusaha bertahan, meskipun tau bahwa tindakannya menjadi Wanita penghibur adalah hal yang salah.
Wanita itu kini berjalan, dengan perasaan kacau. Dahinya yang berdarah belum sempat ia obati.
Daripada menangis, Maura memilih menahannya dan pergi mencari Apotik 24jam. Ada beberapa pengendara sepeda motor, yang sempat mengganggu Maura, tetapi Maura tak menanggapinya lebih dalam.
Setelah beberapa menit ia melangkahkan kakinya, akhirnya Maura menemukan Apotik di sudut kota. Ia melangkah gontai memasuki apotik tersebut.
"Apa anda baik-baik saja?" Tanya Seorang Apoteker, setelah melihat kondisi dahi Maura yang berdarah.
"Saya baik-baik saja. Saya mau beli obat luka, mbak." Sahut Maura, tersenyum getir menahan sakit.
"Baik, silahkan duduk dulu Mbak." Apoteker tersebut terlihat sangat mencemaskan Maura. Ia bergegas meminta salah satu temannya untuk mengambil beberapa peralatan dan juga obat.
"Berapa semuanya Mbak?" tanya Maura, setelah pesanannya di sediakan. Disana ada kain kasa, dan juga antiseptik untuk luka.
"Semuanya 25 ribu, Mbak." Sahut Apoteker tersebut. Maura lalu mengeluarkan uang selembar 50 ribuan untuk mambayar.
Setelah mendapat kembalian, Maura kembali duduk di kursi untuk mengobati lukanya lebih dulu.
"Permisi, biar saya bantu membersihkan lukanya ya, Mbak?"
Maura tersentak, melihat Apoteker tersebut tiba-tiba berinisiatif membantu dirinya. "Maaf merepotkan anda, Mbak." Maura tentu menerima niat baik Apoteker tersebut.
"Ah, jangan sungkan mbak. Ini sudah tugas saya, membantu orang yang terluka." Apoteker bernama Ela itu, kini membantu membalut luka di dahi dan juga lutut Maura.
"Apa anda mengalami kecelakaan?" Tanya Ela, sambil mengobati Maura.
Sejenak Maura terdiam, lalu tersenyum getir menatap Ela. Perlahan menganggukkan kepalanya, membenarkan pertanyaan Ela. "Iya, tapi saya baik-baik saja kok."
"Lalu dimana mobil anda? Apa perlu saya bantu menghubungi polisi?" Melihat penampilan Maura saat ini, membuat Ela berpikir jika Maura datang mengenderai Mobil.
"Tidak perlu, Mbak. Terimakasih sudah membantu saya membalut luka." Maura segera beranjak dari tempat duduknya, dan bergegas pergi. Ela hanya menatapnya dengan cemas. Pasalnya.
Baru saja Maura keluar dari Apotik, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mendapat panggilan dari Rumah sakit yang mengabarkan, bahwa Ibunya mendadak mengalami kritis dan harus segera melakukan tindakan Operasi.
Maura kembali terperangah, setelah menutup panggilannya. Ia tak menyangka, hal buruk akan datang padanya secara berturut-turut.
"Ibu..." Gumamnya, bersama air mata yang menitih ke pipinya.
"Dari mana aku dapat uang sebanyak itu?"
****
Next....
#Cerpencintagila-gilaan