Saskia membuka matanya perlahan. Tidak ada mimpi buruk kali ini—hanya kegelapan yang menelannya. Ia mengangkat kedua tangannya, menatapnya nanar seakan tak percaya. “Dengan tangan ini… aku membunuh pamanku sendiri. Bagaimana kalau yang dikatakan Geo tidak benar? Apa aku… berdosa?” hatinya berkecamuk, perih menyesakkan. “Kamu tidak berdosa,” suara bariton itu tiba-tiba hadir, dalam dan menguasai ruang. “Kamu hanya menyingkirkan anjing pengganggu dan perusak seperti dia.” Kalimat Geo seolah menelanjangi isi pikirannya, menusuk tepat ke titik rapuhnya. “Kamu… menyesal?” pertanyaan Geo terdengar absurd, nyaris menghina. Bagaimana mungkin gadis polos seperti Saskia tidak dilanda penyesalan setelah membunuh seseorang? “Aku…” bibir Saskia bergetar, suara tercekat. Ia tak sanggup mengucapkan k

