Terlambat Untuk Kabur

1144 Kata
Semua kancing di blus putih itu telah terbuka. Kedua tangan Saskia sudah berada di sisi kain, siap membukanya. Tapi tiba-tiba—tangan Geo menahan, genggamannya kuat di pergelangan tangannya. “Berdirilah!” suaranya tajam, memotong udara. “Rapikan bajumu… dan keluar. Temui Doni.” Air mata Saskia langsung jatuh. Ia begitu bersyukur Geo urung memaksanya… untuk sekarang. Namun langkah Geo mendekat, matanya dingin menatap gadis itu. “Kamu jangan senang dulu… aku hanya belum ingin dilayani.” Degup jantung Saskia kembali liar. Napasnya terasa berat. Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Setidaknya… tidak sekarang. Dengan gerakan gemetar, Saskia merapikan bajunya. Saat keluar, ia menemukan Doni sudah menunggu. “Aku antar ke kamar kamu,” ucap Doni singkat. Mereka berjalan melewati koridor yang menghubungkan bangunan utama dengan sebuah bangunan terpisah. Paviliun itu tampak elegan, tapi dingin. Pilar-pilarnya tinggi, bayangannya memanjang seperti jeruji penjara. Ruangan yang dimasuki cukup luas—sofa panjang empuk, televisi, meja kecil. Di sisi lain, sebuah ranjang queen size berdiri kokoh. Ada pula pintu menuju kamar mandi yang berdampingan dengan ruang ganti. Saskia berdiri kaku, matanya mengamati setiap sudut. Ia langsung menebak… ruangan ini bukan untuk tamu biasa. Bukan pula kamar untuk pelayan. Pasti… sudah banyak perempuan sebelum dirinya yang “menempati” tempat ini. Dan semuanya… untuk melayani Geo. Keyakinan itu mengoyak dan porak porandakan keberanian dan juga optimisme. “Mulai sekarang, ini jadi tempatmu,” ujar Doni. “Untuk makan, kamu tetap harus ke bangunan utama. Tapi di kulkas itu… ada makanan, minuman. Dan di sana, kamu bisa membuat minuman hangat.” Ia menunjuk ke arah sudut ruangan. “Itu…” Saskia mengangkat dagu, menunjuk ke beberapa botol minuman berwarna kuning keemasan, terjejer rapi di rak. Botol-botol antik, berkilau di bawah cahaya lampu. “Milik Pak Geo,” jawab Doni datar. “Dia…” “Dia akan menghabiskan waktunya di sini… saat sedang suntuk.” Saskia menelan ludah, lalu bertanya pelan, seakan takut mendengar jawabannya. “Kak Doni… apa tugasku memang itu…?” Doni menatapnya sebentar, lalu mengangguk tegas. “Iya.” “Apa tidak bisa yang lain?” suaranya hampir seperti bisikan putus asa. “Di sini… tidak ada yang bisa melawan perintah Pak Geo.” Saskia tak berani bertanya lagi. Napasnya terasa sesak. Hening mencengkeram ruangan itu. “Istirahatlah,” ujar Doni singkat, lalu meletakkan sebuah ponsel di meja di hadapan Saskia. Saskia menatapnya waspada, seperti melihat benda yang diam-diam bisa melukai. “Ini… untuk apa?” “Komunikasi. Karena aku harus ambil handphone kamu,” jawab Doni tegas, tatapannya datar. Tangannya terulur, menunggu Saskia menyerahkan ponsel pribadinya. “Ta-tapi…” “Ini perintah Pak Geo. Di galeri ada video yang bisa kamu tonton.” Suaranya terdengar seperti bunyi kunci yang memutar gembok—dingin, final. Jemari Saskia bergetar saat menyentuh layar. Ia membuka galeri. Video itu langsung memutar adegan yang membuat darahnya berdesir panik. Nafasnya tercekat. Hanya sepersekian detik sebelum ia menutupnya dengan tergesa, jantungnya berdetak keras di telinga. “Kak… aku… aku nggak butuh ini!” suaranya tercekat, hampir memohon. “Pak Geo bilang kamu belum berpengalaman. Dia minta kamu… belajar.” Saskia menggeleng, kepalanya seperti ingin melepaskan pikiran kotor yang baru saja masuk. “Kamu bohong? Sudah sering sama pacarmu?” Nada suara Doni menusuk. “Bukankah itu… terlalu vulgar, Kak…” suaranya nyaris berbisik. Doni tersenyum tipis. Senyum itu tidak punya rasa—bukan simpati, bukan empati. “Setelah ini… dunia kamu akan berubah, Kia. Kalau kamu mau marah… marahi ayahmu.” “Kak… tolong aku… aku nggak akan minta rumah itu lagi… biarkan aku pergi… aku nggak butuh rumah itu…” “Kamu terlambat.” Doni mendekat satu langkah, bayangannya menutupi cahaya lampu di wajah Saskia. “Seharusnya kamu pergi saat masih di depan. Sekarang… kamu sudah di sini. Dan tempat ini… menelan orang.” Saskia menelan ludah, terasa pahit. “Kak… kumohon… aku tahu Kakak orang baik…” “Kami di sini tidak dilatih untuk punya belas kasih. Apalagi pada perempuan. Jadi berhenti memohon.” Suaranya kini benar-benar dingin. “Ayahmu mencuri uang itu… bersama kekasih Pak Geo. Jadi kamu yang harus membayar kesalahannya.” Saskia memejamkan mata, kepalanya berputar. “Ini… nggak adil…” “Adil?” Doni tertawa pendek, hambar. “Apa yang dialami Pak Geo adil?” “Aku tahu ayahku salah… aku akan bersujud untuk menebusnya…” “Berhentilah melawan. Karena semakin kamu melawan… semakin dia akan memecahkanmu. Dan sekarang… dia sedang penuh kebencian.” Tubuh Saskia kehilangan tenaga. Lututnya menyerah, membuatnya terjatuh di lantai. Ia mendengar suara darahnya sendiri di telinga—deras, menekan. “Kalau mau tetap bernapas… lakukan apa yang dia mau. Tunduklah. Jadilah anjing peliharaan yang patuh pada majikannya. Paham?” BRAK! Pintu tertutup keras, membuat dinding berguncang. Keheningan setelahnya begitu tebal, nyaris menekan dadanya. Saskia tetap di lantai, tak bergerak, hanya menatap pintu yang kini terasa seperti tembok penjara. Dengan sisa tenaga, ia merangkak ke sofa. Ponsel di mejanya seperti benda asing. Ia mencoba mengetik pesan untuk ayahnya—tangan bergetar, layar buram oleh air mata. Pesan terkirim… dan tetap bercentang satu. Ia memeluk lutut, berusaha menahan rasa ingin berteriak. Di ruangan ini, bahkan napasnya sendiri terdengar seperti rahasia yang tidak boleh keluar. “Tuhan… aku harus bagaimana? Aku ke sini bukan untuk menyerahkan diri… jadi pelayan Pak Geo di ranjang…” suaranya patah. Sejak ibunya meninggal, hidupnya sudah sepi. Tapi kesepian ini… berbeda. Ini bukan hanya sendirian—ini terkurung, terperangkap dalam ruang yang memakan harapan. “Ibu… apa kamu melihatku? Apa yang harus aku lakukan?” suaranya pecah, dan untuk sesaat, ia berharap dinding itu menjawab. Tapi hanya keheningan yang kembali padanya. Ia mengusap air mata dengan punggung tangan, mencoba mengatur napas. Namun tiba-tiba, suara statis pelan terdengar dari sudut ruangan. “Saskia Tanto” Suara itu dalam, berat, namun mengandung nada puas—muncul dari speaker kecil di pojok langit-langit. Ia mendongak, tubuhnya kaku. “Si… siapa…?” Tawa tipis terdengar sebelum jawabannya datang. “Jangan pura-pura bodoh. Aku Geo.” Saskia terpaku. Pandangannya berkeliling, matanya membeku saat melihat titik merah kecil menyala di pojok ruangan, tepat di atas lemari. Kamera pengintai. “Jangan buang waktu mencari sudut aman, Kia. Bahkan di kamar mandi pun aku bisa lihat kamu.” Geo tertawa lagi, kali ini lebih pelan, seperti menikmati rasa malu yang menyergapnya. “Menarik sekali melihat betapa cengengnya kamu… persis ayahmu—lemah, pengecut, dan selalu bersembunyi.” Saskia menggeleng, bibirnya bergetar. “Om Geo…ini pelanggaran, ga boleh.” “Kenapa? Malu? Atau takut?. Di sini, kamu bukan siapa-siapa, cuma ganti rugi yang berjalan. Semua pintu terkunci, semua langkahmu terekam. Tidak ada tempat yang luput dari mataku.” Napas Saskia semakin cepat, tubuhnya mundur ke sofa, mencoba menjauh dari titik merah itu, tapi rasanya kamera itu mengikutinya kemanapun ia bergerak. “Terima nasibmu, Kia. Dan berterima kasihlah pada ayahmu, Josh Tanto… dialah yang mengantarmu masuk ke neraka ini.” Saskia meringkuk di ujung sofa sambil menutup kedua telinganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN