Saskia tertidur di atas sofa setelah lelah menangis, matanya bengkak, perutnya kosong. Tak setdikit pun makanan melewati tenggorokannya sejak tadi. Ia terbangun karena rasa lapar yang menusuk, perutnya bergejolak seperti ada sesuatu yang memberontak dari dalam.
“Ya Tuhan… aku lapar sekali…” keluhnya lirih. Ia sempat berpikir untuk ke bangunan utama, meminta makan seperti instruksi Doni. Tapi ketika mencoba membuka pintu, suara klik dingin memberitahu kenyataan—pintu terkunci dari luar.
Putus asa mulai merayap. Ia mengingat kulkas kecil di pojok. Bukan kulkas besar seperti yang i
a bayangkan, melainkan minibar mungil. Isinya hanya minuman. Syukurlah ada yoghurt dan s**u; setidaknya cukup untuk mengganjal perut yang memelintir nyeri.
Tubuhnya lengket, napasnya terasa pengap. Ia membongkar koper, mengambil baju tidur: celana pendek dan kaos tipis tanpa lengan bergambar kelinci. Tanpa berpikir panjang, ia melepaskan pakaian dan masuk ke kamar mandi. Hangatnya air menyapu kulit, membuatnya sedikit rileks—
Hingga matanya menangkap sesuatu.
Di atas shower, tepat di sudut plafon, sebuah titik merah kecil menyala. Kamera.
Darahnya seakan berhenti mengalir. Napasnya terhenti. Ia buru-buru meraih handuk, membungkus tubuhnya, lalu lari ke kamar ganti, berharap itu satu-satunya tempat yang aman.
Namun suara statis kecil dari speaker di langit-langit memecah harapannya.
“Tutup saja, Kia… percuma,” suara Geo terdengar, tenang namun penuh ejekan. “Bahkan kamar mandi pun bukan tempatmu bersembunyi.”
Saskia menatap langit-langit, gemetar. “Kamu… c***l!”
Geo tertawa pendek, sinis. “c***l? Hanya karena aku memandang milikku sendiri? Kamu ini lucu, setelah ini aku akan mencicipi milikku.”
Saskia mengepal tangan, tapi tak bisa membalas.
“Kamu tidak akan bisa lari,” lanjut Geo. “Setiap gerakmu terekam. Bahkan cara kamu memegang handuk tadi… aku melihatnya. Semua pintu terkunci, semua sudut dalam pengawasanku. Jadi nikmati saja. Atau menangis lagi, kalau hanya itu yang kamu bisa.”
Tangannya bergetar saat ia meraih ponsel yang Doni berikan. Ia berniat membuka galeri, mengingat perintah Geo.
Begitu layar menyala dan video itu muncul, napasnya langsung tersekat.
Perutnya mual. Dadanya sesak. Matanya refleks ingin menutup, tapi tubuhnya kaku, seperti terkunci. Gambar-gambar itu terus bergerak di depannya—suara erangan, gerakan-gerakan kasar—semuanya membuat kulitnya merinding.
"Apa ini…" bisiknya, suaranya serak.
Keringat dingin mengalir di punggung. Jantungnya berdegup kencang sampai telinganya berdenging. Ia ingin melempar ponsel itu, tapi tangannya tak bisa bergerak.
"Ah… ini tidak benar!" jeritnya pelan, suara pecah.
Air mata meleleh lagi. Kali ini bukan karena lelah, tapi karena rasa jijik yang menusuk. Seperti sesuatu yang bersih di dalam dirinya baru saja dikotori paksa.
Di speaker, Geo kembali tertawa. “Itu hanyalah pemanasan, Kia. Aku ingin tahu berapa lama kepolosanmu kamu bisa bertahan.”
Saskia melemparkan ponsel itu sejauh mungkin, seperti benda itu membakar kulitnya. Tubuhnya meringkuk di sudut ranjang, tangan mencengkeram selimut hingga buku-buku jarinya memutih. Suara pintu yang terbuka membuat dadanya sesak—napasnya terhenti, perutnya berontak antara mual dan sesuatu yang lebih dalam, lebih panas.
Geo melangkah masuk dengan tenangnya yang mengerikan. Matanya gelap, menatap Saskia bagai dia sudah telanjang—dan mungkin, di kepalanya, dia memang begitu.
"J—Jangan mendekat, please—!" suara Saskia pecah, tapi Geo sudah menangkap pergelangan kakinya dan menariknya brutal ke tengah ranjang. Saskia terengah, punggungnya menekan kasur saat bayangan Geo menutupinya.
"Om, tolong—" tangannya menahan d**a Geo, tapi Geo hanya tertarik pada reaksinya.
Bibir dingin Geo menyambar cuping telinganya, menggigit ringan. Saskia menjerit kecil, tapi tubuhnya melengkung sendiri—dorongan bodoh dari bawah perut yang membuatnya malu.
"Kamu lembek sekali," Geo mendesis, tangan kanannya mengunci pergelangan tangan Saskia di atas kepala, sementara tangan kirinya menyusur sisi tubuhnya yang menggigil. "Baru disentuh di sini saja—" jarinya menekan pinggul Saskia, "—kamu sudah basah."
Saskia menggeleng liar, tapi tubuhnya berbohong. Dia merasakannya—panas yang memenuhi, degup jantung yang tak karuan. Geo mengejeknya dengan gerakan lambat: jari-jemarinya menyusur paha Saskia yang terbuka, menggores kulit sensitif di bagian dalam—hampir sampai, tapi tidak pernah benar-benar menyentuh di mana dia paling menginginkan.
"Nn—!" Saskia menggigit bibirnya sendiri, tapi suara itu tetap bocor.
Geo tiba-tiba berhenti.
"Cukup," dia menarik diri, berdiri di tepi ranjang dengan tatapan dingin. "Aku hanya ingin melihat seberapa cepat kamu jadi seperti ini. Menyedihkan."
Saskia terengah, tubuhnya masih tegang, masih panas—dan anehnya, ada sesuatu yang hampa di dadanya. Kecewa.
Geo sudah sampai di pintu sebelum dia mendengar bisikan serak Saskia: "...Tidak fair."
Geo berbalik, senyum tipisnya muncul lagi. "Oh? Kamu mau lanjut?"
Saskia langsung menutup mulutnya sendiri, malu. Tapi Geo tertawa—dia tahu.
"Besok," katanya sebelum pergi, "kita lihat berapa detik yang kamu butuhkan untuk merengek."
Wajah Saskia merah padam, napasnya masih tersengal-sengal gara-gara perbuatan Geo. Dia merasa dilecehkan tapi anehnya dia menikmati itu. Rasanya ingin memarahi diri sendiri tapi Saskia tak mampu.
Geo mengamatinya dengan senyum sadis, lalu tiba-tiba tangan kanannya meremas payudaranya melalui kain tipis baju tidur.
"Omm—! Jangan...!" Saskia menggeliat, tapi pinggulnya malah terangkat sedikit—gerakan refleks yang bikin Geo menyeringai.
"Kamu bilang jangan, tapi ada yang mengeras, Kia..." Jarinya mencubit p****g yang sudah tegang melalui kain, membuat Saskia memekik. Tangannya berusaha menahan pergelangan tangan Geo, tapi lemah—badannya benar-benar lemas, digerogoti rasa geli yang mengganjal di perut bawah.
"Please... aku lemes..." rintihnya, suara kecil dan serak.
Geo tertawa pendek, kasar. "Lemes? Kamu keluar keringat dingin, lho." Ibu jarinya mengusap leher Saskia yang basah, lalu mengejek, "Badanmu lebih jujur dari mulutmu."
Saskia memalingkan muka, tapi Geo menangkap dagunya. "Om... aku laper," keluhnya tiba-tiba, nada manja yang bahkan bikin dia sendiri kaget.
Geo mendelik, lalu tiba-tiba bangkit. "Ternyata begitu caranya minta makan?" Dia berjalan ke intercom di nakas, menekan tombol. "Bawa makanan ke kamar. Sekarang."
Saskia menatapnya waspada—ternyata triknya berhasil membuat Geo berhenti mempermainkannya. Tapi sebelum dia bisa lega, Geo sudah kembali, duduk di tepi ranjang dengan tatapan mengkilap.
"Mau main-main lagi sambil nunggu makanan?" Tangannya merayap dari betis Saskia, pelan-pelan naik ke paha. Jemari kakinya menekuk, tumitnya menghujam kasur—tubuhnya tegang lagi, padahal baru saja berusaha rileks.
"Nn—! Jangan...!"
Geo mengabaikan protesnya, jemarinya terus menjelajah, hampir mencapai bagian dalam paha, dia melakukannya dengan gerakan memutar dan ibu jarinya menekan permukaan lain yang mulai lembab, Saskia hampir dibuat linglung olehnya. "Kalau mau selamat," bisiknya, "kamu harus nurut. Paham?"
Saskia mengangguk cepat, napasnya tersendat.
"Bagus," Geo membelai rambutnya seperti memuji anjing. "Aku suka anak anjing yang manis."
Di luar, langkah pelayan mendekat. Geo akhirnya menarik tangan nakalnya, tapi tidak sebelum mencubit paha Saskia sekali lagi—peringatan. "Makan dulu. Nanti kita lanjutin pelajaran-nya."