Saskia keluar dari kamar mandi dengan kepala masih tertunduk. Perasaan yang menggelayuti dirinya kini sama sekali berbeda dengan sensasi menyerah yang memabukkan yang ia rasakan semalam. Kini, yang ada hanyalah dinginnya kenyataan dan sisa rasa perih di antara pahanya. Dia menyadari tatapan Geo mengawini setiap langkah lambannya—sebuah tatapan gelap yang penuh d******i tanpa perlu satu kata pun. Saskia berusaha menyembunyikan ketidaknyamanannya, tetapi langkahnya yang sedikit terseret masih bisa terbaca oleh mata Geo yang tajam. “Sakit?” suara Geo pecah menyapa keheningan, datar namun terasa menusuk. Saskia hanya mengangguk pelan. Dalam hati, ia bertanya-tanya apakah lelaki ini benar-benar tidak tahu atau hanya pura-pura tak mengerti. “Butuh bantuanku?” tanyanya lagi, kali ini lebih re

