"Tunjukkan mukamu," perintah Geo, suaranya berat seperti baja. Tapi Saskia masih membenamkan wajahnya di d**a Geo, seolah itu adalah benteng terakhir yang melindunginya dari rasa malu yang menghancurkan. Perlahan, dengan gemetar, Saskia mengangkat kepalanya. Wajahnya memerah, basah oleh air mata dan keringat. Seluruh tubuhnya masih terasa panas, seolah baru terbakar dari dalam. "Pergilah! Kembali ke kamarmu!" usir Geo tiba-tiba, mendorongnya perlahan tapi tegas. Apa semua lelaki sikapnya seperti ini? Pikir Saskia dengan getir. Sangat menyebalkan. Sebentar baik, sebentar jahat—seperti memainkan yo-yo dengan perasaannya. Dengan tangan gemetar, Saskia membenahi kimononya yang hampir terbuka. Dia berjalan keluar kamar dengan langkah gontai, seperti orang yang baru saja dihancurkan jiwa rag

