Geo melepaskan cengkeramannya dengan seutas senyum puasyang licik. Dia menyaksikan wajah Saskia yang memerah, nafasnya tersengal-sengal seperti ikan yang terlempar dari air. Bibirnya masih berbinar lembab akibat ciuman yang baru saja terjadi. “Hari ini kamu bermain sangat baik,” ujarnya, suara rendah seperti auman singa yang puas. “Aku bangga sama kamu. Kamu belajar cepat.” Haruskah Saskia merasa bangga dengan pujian yang terasa seperti hinaan halus itu? “Terima kasih, Tuan,” ucapnya dengan suara patuh, meski setiap kata terasa seperti pisau yang menggorok harga dirinya sendiri. “Hari ini aku antar kamu ke kampus untuk urus kuliahmu,” kata Geo, dan mata Saskia langsung berbinar seperti anak kecil yang ditawari permen. “Sebagai hadiah.” Jari-jari besar Geo merapikan anak rambut Saskia

