Bab 2: Berdamai

1147 Kata
Aksara turun dari taksi yang berhenti di depan sebuah rumah dua lantai bergaya sederhana dengan pekarangan yang luas pada sore hari. Hari ini sudah berlangsung panjang dan Aksa sudah ingin merebahkan diri di dalam kamarnya. Kemudian ia menyeret koper yang sudah dikeluarkan oleh sang sopir lalu berjalan menuju pagar putih yang menjulang tinggi. Belum sempat ia memencet bel untuk diminta dibukakan, seorang pria dari pintu samping rumah berjalan tergopoh-gopoh untuk membukakan pintu pagar untuk dirinya. “Mang Aris.” Aksa menyapa pria setengah baya yang merupakan tukang kebun yang juga suami dari asisten rumah tangga yang sudah bersama dengan keluarganya semenjak Aksa kecil. “Nyonya dan Non Manda sudah nunggu di dalam, Tuan.” Mang Aris mengambil koper dari tangan Aksa dan membawanya memasuki rumah. Aksa berjalan menuju pintu utama dan membukanya. Begitu terbuka ia langsung disambut oleh pelukan cepat dari Amanda, adik satu-satunya yang berusia sepuluh tahun lebih muda darinya. Meski usianya terpaut cukup jauh tapi tidak membuat mereka berdua menjadi canggung. Terlebih mereka hanya dua bersaudara. “Akhirnya pulang, Mas. Kami semua kangen.” Suara Amanda serak. Bisa ia pastikan bahwa Amanda menangis di dalam pelukannya. “Mas kan pasti kembali. Makasih ya kamu udah bantuin jagain Mami selama Mas nggak ada disini.” Aksa mengelus punggung adiknya lembut. “Kata Mami, kalau sampai akhir bulan ini Mas Aksa belum pulang juga, Mami mau nyusulin Mas Aksa ke Jerman dan tinggal disana.” Aksa melirik Mami yang masih berdiri tak jauh dari Amanda dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Memangnya Mami betah tinggal disana?” tanya Aksa setengah meledek. Karena ia tahu bahwa maminya itu tidak pernah bisa jauh dari rumah yang merupakan peninggalan papinya sebelum meninggal beberapa tahun yang lalu. “Kalau Mami nggak betah tinggal menyeret kamu juga ikutan pulang.” Aksa terkekeh. Mami melangkahkan kaki mendekati Aksa dan mereka berpelukan cukup lama bebarengan bersama Amanda. “Sudah cukup sambutannya. Manda, mana keponakanku?” “Di kamar, lagi tidur.” Aksa mengerucutkan bibirnya sedikit kecewa. Keponakannya yang baru berusia tiga tahun itu sudah sangat ia rindukan. Aksa hanya pulang setahun sekali pada saat hari raya dan ketika bertemu dengan Keanu, ia memusatkan perhatiannya menjaga dan melihat tumbuh kembang anak itu sampai dengan detik ini bahkan ia sudah menganggap bahwa Keanu adalah anaknya sendiri. “Bentar lagi juga bangun.” “Kira-kira dia masih ngenalin Mas nggak ya? Apa harus pendekatan ulang lagi?” Amanda tertawa pelan. “Aku cerita kalau Mas akan pulang jadi sedari tadi dia nanyain terus sampai ketiduran.” Mau tidak mau Aksa juga menyunggingkan senyum. Dalam hatinya ia tidak sabar untuk menunggu anak kecil itu membuka mata dan mereka akan bermain bersama. “Julian akan menjemput?” Julian adalah adik iparnya. “Aku mau menginap disini, Julian menyusul setelah pulang kerja nanti. Dia juga nggak sabar mau bertemu denganmu lagi, Mas. Kami semua kangen.” Masih terdengar suara parau darinya. Kalau saja dirinya tidak menahan air mata yang sudah mulai menggenang di pelupuk matanya. Amanda pasti langsung menangis dan sulit akan berhenti. “Sudah, Manda. Biarkan Mas-mu itu istirahat. Dia habis dari bandara langsung ke mengajar ke kampus. Kita siapkan makan malam dulu saja.” “Istirahatlah, Mas. Nanti akan aku panggilkan untuk makan malam.” Aksa mengangguk lalu melangkah gontai menuju kamarnya yang terletak di lantai dua yang hanya ada dua kamar tidur satu kamar mandi itu. Begitu Aksa membuka pintu, tata letak kamarnya masih sama persis seperti yang ia tinggalkan. Yang berbeda hanyalah bedsheet dan bedcover yang tampak baru dibeli. Kamar Aksa tidak begitu luas. Bisa dibilang ini merupakan kamar semasa lajangnya dan masa-masa awal pernikahannya dengan Jihan. Mereka berdua tidak tinggal disini dan memilih untuk membeli satu rumah yang tak jauh dari tempat Jihan bekerja sebagai pegawai bank pada saat itu. Setelah meninggalnya Jihan, Aksa tidak berani menginjakkan kaki di rumah itu dan memilih pulang ke rumah orang tuanya. Rumah itu akhirnya disewakan dan penyewanya hanya berkomunikasi dengan Mami. Aksa enggan untuk ikut campur. Di sudut ruangan ada rak buku yang cukup banyak berisi buku materi penyokong untuk mengajar dan ada beberapa koleksi pribadi. Aksa mengambil salah satu buku kumpulan puisi milik Jihan dan membuka salah satu halamannya. Terselip satu foto Jihan yang diambil beberapa tahun silam. Hatinya masih terenyuh meski ia berulang kali menyatakan bahwa dirinya sudah merelakan Jihan namun ada waktu-waktu Aksa begitu merindukannya. Seperti kali ini. Di hari pertama kepulangannya. *** Keesokan harinya, sebelum pergi ke kampus Aksa pergi menuju pemakaman tempat peristirahatan terakhir Jihan dan bersimpuh tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Dia hanya melihat dua batu pualam yang terukir nama Jihan Hapsari, mendiang istrinya dan Aidan Rajendra, anaknya yang meninggal sesaat sebelum sempat melihat dunia. Sebuah momen traumatis lima tahun silam berputar cepat di dalam benaknya. Aksa tidak lagi melawannya, ia hanya berdiam diri karena hal itu satu-satunya kenangan untuk mengenang terakhir kali sebelum maut memisahkan. “Jihan, aku datang–,” Aksa menggeleng dan suaranya tercekat begitu ia duduk bersimpuh di depan makam mendiang istrinya. “Aidan, maaf papa baru bisa datang.” Aksa melihat batu nisan di sebelahnya. Lama ia hanya bersimpuh tanpa mengucapkan sepatah apapun. Aksa memejamkan mata untuk memanjatkan doa dan bercerita dari dalam hati betapa ia merindukan mendiang istri dan anaknya. “Aksa? Kau kah itu?” Pria itu menoleh dan mendapati sosok wanita setengah baya berdiri tak jauh dari tempatnya bersimpuh. “Ibu…” Aksa berdiri dan menghampiri wanita yang dipanggil Ibu oleh dirinya lalu langsung memeluknya. Beliau adalah mantan mertuanya, ibu dari mendiang istrinya yang, Ibu Laras. “Benar kamu rupanya. Akhirnya kamu pulang, Nak. Sudah sekian lama.” Wanita itu membalas pelukan Aksa dan membelai punggung pria itu lembut. “Kapan kamu sampai?” tanyanya lagi. Aksa melepas pelukannya. “Kemarin. Maaf aku belum sempat datang ke rumah. Ada masalah dengan penerbangan sehingga jadwalnya mundur.” “Tidak usah dipikirin. Katanya kamu datang kemarin kan. Kamu pasti masih butuh waktu untuk beristirahat setelah perjalanan panjang. Kamu tidak berencana untuk pergi lagi kan?” Aksa memaksakan tersenyum. “Aku kembali mengajar di kampus yang lama. Jadi mungkin bisa dikatakan kali ini aku akan menetap lebih lama.” Ibu Laras membelai lembut pipi Aksa. “Lagipula, kasihan Mami kamu sendirian terus di rumah kan?” Aksa menyunggingkan senyumannya. “Amanda sudah sangat pengertian membantu menjaga Mami selama ini. Mami beberapa kali memintaku untuk pulang tapi aku baru mengabulkannya saat ini.” “Ibu senang kamu akhirnya bisa kembali lagi dan melanjutkan hidupmu. Bertemu dengan wanita lain, jatuh cinta lalu menikah.” Aksa mendongak kaget mendengar penuturan dari mantan ibu mertuanya lalu tersenyum getir. “Aku belum memikirkan sampai sejauh itu, Bu. Mungkin juga aku tidak bisa. Aku nggak bisa membayangkan dalam hidupku ada wanita lain selain Jihan.” Sorot mata Ibu Laras tidak memudar. Ia mengenggam tangan Aksa dan kini mata mereka saling bertatapan. “Jihan pasti ingin kamu bisa bahagia. Jangan lupakan apa yang pernah ia sampaikan untukmu, Aksa.” Aksa hanya bisa diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN