Bab 1: Topik Hangat
Hampir seluruh mahasiswa tengah asyik berbincang satu topik yang lagi panas pada pagi hari ini. Konon katanya ada satu orang dosen pria di sebuah universitas swasta terbaik sepanjang masa yang merupakan incaran para mahasiswi dan juga tidak sedikit para dosen yang menyukai pesonanya tiba-tiba menghilang lalu lima tahun kemudian pria itu kembali.
Ketika terdengar kabar bahwa pria itu akhirnya kembali mengajar di kampus yang sama membuat hampir seluruh orang di kampus menjadikannya perbincangan utama. Bahkan staf akademik pun juga ikut menghangatkan topik ini.
“Pak Aksa itu dilihat-lihat semakin matang usianya, kharismanya malah makin bertambah ya?” ujar salah satu staf akademik yang sudah bekerja sangat lama ketika melihat sosok Aksara datang berjalan melewati ruang akademik menuju lift.
“Usianya sudah hampir empat puluh tahun kan?” tanya yang lain.
“Benar.”
“Pasti sudah menikah ya? Beruntungnya yang jadi istrinya beliau.” Sekar, staf akademik yang masih muda dan baru bekerja beberapa bulan terakhir bersuara.
“Istrinya sudah meninggal lima tahun yang lalu.”
Reaksi yang diperlihatkan terbagi menjadi dua kubu. Ada yang masih menaruh simpati karena pada saat kejadian turut menyaksikan bagaimana terpuruknya Aksa, ada yang terkejut dan dengan mata berkilat menandakan bahwa ia masih punya peluang untuk mendekati Aksa.
“Kalau nggak sengaja berpapasan sama Pak Aksa, jangan bahas tentang masa lalu. Beliau ini cinta mati sama istrinya, makanya meskipun sudah lima tahun ditinggal masih belum menikah lagi.”
Yang lainnya bergumam menaruh rasa simpati sekaligus kagum.
***
Di lain tempat, Aksara bersama Pak Joseph selaku Rektor tengah berbincang santai guna menyambut kedatangan kembali Aksara. Bisa dibilang, Aksara adalah salah satu Dosen kesayangannya.
“Terima kasih telah menerima saya kembali, Pak Joseph.” Aksa mengulurkan tangan pada pria paruh baya dengan rambut hampir putih di usia yang sudah hampir enam puluh tahun itu.
Pak Joseph tersenyum hangat dan menyambut uluran tangan Aksa.
“Senang akhirnya kamu memutuskan untuk kembali. Yang penting kamu sudah bisa beraktivitas kembali. Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Pak Joseph hati-hati.
“Sudah, walau memerlukan waktu yang cukup lama.” Aksa tersenyum getir.
Pak Joseph menepuk pelan bahu Aksa. “Tidak akan ada yang siap dengan kehilangan, Aksa. Saya sangat maklum dengan kondisi kamu.”
“Terima kasih atas pengertiannya, Pak Joseph.”
“Selalu ada ruang untukmu kembali, Aksa. Bukan hanya karena kamu anak dari sahabat saya, tapi saya mengakui kapabilitas kamu di sini sangat diperlukan.” Pak Joseph menyunggingkan senyum simpul dan sorot matanya menyiratkan maksud.
“Kalau begitu, saya pamit.”
Aksa tersenyum lalu berbalik meninggalkan ruang Rektor Universitas yang sudah ia kenal cukup lama semasa ia masih menjadi tenaga pendidik di kampus ini. Sebelum akhirnya dia memutuskan mengundurkan diri dan memilih untuk pergi ke luar negeri mengambil pendidikan yang berkedok penyembuhan diri.
Hari ini, merupakan hari pertama Aksa kembali mengajar di kampus yang sama. Karena ada keterlambatan dalam jadwal penerbangan membuat pria itu harus langsung datang dari bandara, belum sempat menaruh koper pada akhirnya memilih membawanya ke kampus. Koper tersebut dititipkan di ruang dosen dan berganti pakaian yang lebih rapi untuk bersiap memasuki kelas.
Aksa juga mendapat sambutan ringan dari beberapa dosen lama yang tentu masih mengenalnya dan ada beberapa wajah baru yang belum ia kenal maka ia perlu memperkenalkan diri. Tidak banyak waktu berbincang lebih lama lagi karena jadwal mata kuliah sebentar lagi akan dimulai.
Ia sudah memegang map berisi daftar absen dan satu tas tangan berisi beberapa buku untuk materi pembelajaran hari ini.
Ketika ia membuka pintu dan cukup terkejut dengan jumlah mahasiswa yang datang melebihi kapasitas ruangan. Hampir sebagian besar didominasi oleh mahasiswi yang duduk di barisan bangku paling depan.
“Selamat pagi. Maaf saya sedikit terlambat.” Aksa membuka suaranya berjalan menuju meja yang terletak di pojok kanan ruang kelas.
“Pagi, nggak apa-apa, Pak,” jawab seluruh orang di ruangan dengan antusias.
Aksa berjalan ke meja dan membuka map berisi daftar absen dan bergumam sebentar. “Kalian semangat sekali ya untuk memulai perkuliahan pagi hari ini?”
“Iya, Pak!” jawab seluruh mahasiswa.
“Terima kasih atas antusias kalian untuk menghadiri mata kuliah saya. Tapi saya boleh minta tolong bagi yang bukan terdaftar pada absensi ini boleh dipersilahkan meninggalkan ruangan.” Aksa masih memasang senyumannya pada bibirnya.
Beberapa orang berbisik bersamaan menimbulkan sedikit keributan.
“Yah, Pak. Hari ini saja nggak boleh?” tanya seorang mahasiswi yang duduk di barisan depan.
“Saya takut nanti malah mengganggu para mahasiswa inti dari perkuliahan saya. Kalian bisa bertemu saya semester berikutnya atau jika ada perkuliahan umum.” Aksa masih menyunggingkan senyuman ramahnya.
Bujukannya berhasil. Perlahan namun pasti sebagian besar mahasiswi mulai meninggalkan kelas dan hanya menyisakan sekiranya 23 orang yang berada di kelas.
Aksara menghembuskan napas lega.
“Baiklah, kalau begini sudah terlihat pas. Selamat datang di kelas saya, di mata kuliah Akuntansi Lanjutan. Salam kenal semuanya, saya Aksara Radhika, panggil Pak Aksa saja. Tidak usah Aksara, terlalu panjang. Bisa dibilang saya pernah mengajar di kampus ini lima tahun yang lalu kemudian sempat berhenti untuk melanjutkan pendidikan di luar dan akhirnya memutuskan untuk kembali mengajar di sini.”
“Salam kenal, Pak.”
Aksa mengangguk dan memperhatikan satu persatu para mahasiswanya. “Siapa ketua kelas disini?”
Seorang perempuan cantik berambut coklat berkacamata dengan pakaian cukup modis itu mengangkat tangan. “Saya, Pak. Patricia.”
“Baik, Patricia. Tuliskan alamat email kamu untuk nanti saya kirimkan slide materi seusai kelas dan jika ada materi tambahan lainnya. Dan ini absensi kalian.” Aksa menyerahkan map kuning berisi daftar absensi yang kolomnya masih belum terisi paraf sebagai tanda kehadiran.
Patricia mengangguk mengerti.
“Mari kita buat peraturan di kelas saya. Kalian boleh absen bebas lebih dari tiga kali tapi harus mengirimkan pesan ke saya melalui pesan pribadi. Tidak boleh kolektif. Apapun alasannya, kalian sendiri yang harus mengirim pesan. Penilaian saya yang paling besar bukan dari absensi tapi bagaimana kalian aktif di kelas selama kita diskusi. Dalam poin diskusi itu ada hidden quiz sebagai nilai tambahan tanpa kalian sadari.”
Aksa memperhatikan respon sebagian mahasiswa yang menyambut antusias ada juga yang lemas.
“Selama di kelas, kalian tidak boleh mencatat apapun dalam buku catatan atau di laptop. Gunakan ponsel kalian untuk merekam perkuliahan kita. Seperti yang saya bilang tadi, kita akan berdiskusi dibanding berkutat dengan buku. That’s why saya lebih suka mengajar kelas lanjutan. Materi perkuliahan setiap pertemuan akan saya kirimkan melalui Patricia.” Aksa melanjutkan.
Seluruh mahasiswa tampak terpana dengan peraturan yang baru diucapkan oleh Dosen barunya ini dan tidak banyak protes meskipun hal ini masih baru bagi mereka.
Tanpa berlama-lama lagi, Aksa mulai mengeluarkan laptop dan menyambungkannya dengan proyektor yang sudah tersedia di setiap kelas.
“Kita awali perkuliahan hari ini dengan topik Apresiasi dan Depresiasi Terhadap Mata Uang...”