Rovere dan Dee masuk ke kamar perawatan Laura, Dee langsung menghirup napas dalam. Bibi Laura masih terbaring lemah, wajahnya pucat dengan beberapa luka kecil di kening dan kakinya. Tapi yang membuat Dee tertegun adalah sosok pria paruh baya yang duduk di kursi plastik sebelah ranjang—seorang lelaki berambut perak dengan kerutan halus di sudut mata, memegang tangan Bibi Laura dengan lembut. ‘Siapa dia?’ batinnya. Begitu mendengar langkah mereka, pria itu menoleh. Matanya—biru kelabu seperti laut sebelum badai—berbinar dengan kehangatan yang tak terduga. "Ah, kau pasti Dee," ujarnya, suaranya serak tapi ramah. Dee mengerutkan kening. Bibi Laura tersenyum lemah. "Dee … ini John. Teman sekolahku dulu." John mengangguk hormat. "Laura sering bercerita tentang kalian."