Matahari pagi menyembul perlahan dari balik puncak Ben Navis, menyinari dengan cahaya keemasan yang memancar melalui kabut tipis. Udara segar dan dingin menusuk kulit, tapi Dee sama sekali tidak merasa terganggu. Dia duduk di atas batu datar, menikmati pemandangan yang terbentang di hadapannya—hijau pepohonan, birunya langit, dan kabut yang melayang pelan seperti selimut tipis di atas lembah. “Pemandangan yang sempurna untuk makan pagi,” ucap Rovere dari belakangnya, suaranya hangat dan mengisi kesunyian pagi. Dee menoleh dan melihat pria itu sedang mengeluarkan beberapa bungkus makanan dari tasnya. Rovere tersenyum padanya sebelum berjongkok di dekat api kecil yang masih menyala dari braket yang dia nyalakan tadi malam. Dengan gerakan terampil, dia meletakkan makanan di atas b