Dee menatap jalan di depannya setelah cukup lama berkendara, lalu menatap Rovere dengan mata menyipit. "Kau bilang kita hanya akan mendaki di sekitar Liverpool. Harusnya mau memilih The Pennines," gerutnya, suaranya mulai meninggi. Rovere tersenyum, senyum lebar yang membuat Dee ingin menamparnya. "The Pennines kurang menantang. Jadi aku memilih Lake District. Dan aku sudah membayarmu mahal, kan?" Dee menghela napas panjang. Kesal. Ia seharusnya menolak. Tapi ingatannya melayang pada uang yang Rovere beri kemarin—yang memang sangat banyak. "Kau tahu ini gila, kan?" Dee menggerutu sambil menyesap kopi panas dari termosnya. "Aku bukan pendaki profesional." "Tapi kau adalah satu-satunya orang yang kutahu bisa membuat perjalanan ini tidak membosankan," jawab Rovere sambil menepuk