Prolog
POV Venus
“Ya ampun… berantakan banget. Pasti ulah Mas Aji lagi.”
Aku menghela napas panjang sambil memunguti pakaian kotor yang berserakan di ruang ganti. Satu per satu kumasukkan ke dalam keranjang laundry, lalu merapikan gantungan baju yang berantakan. Sudah seperti rutinitas harian—setiap kali Aji pulang kerja, ruang ganti ini selalu terlihat seperti habis diterjang badai kecil.
Namun, saat tanganku hendak meluruskan jas abu-abu favoritnya yang tergantung miring, jemariku menyentuh sesuatu di dalam saku.
Aku mengernyit.
Tanganku merogoh ke dalam, lalu seketika membeku di tempat.
Sebuah alat tes kehamilan.
Tanganku langsung dingin.
Perlahan, mataku turun pada dua garis merah yang terlihat jelas di sana.
Seketika itu juga jantungku seperti dihantam sesuatu yang keras. Napasku tercekat. Untuk beberapa detik, aku hanya bisa menatap benda itu tanpa berkedip, seolah berharap mataku sedang salah melihat.
‘Tespek siapa ini?’
‘Kenapa benda ini ada di saku jas Mas Aji?’
‘Tidak… pasti ada penjelasan lain. Mungkin ini milik seseorang yang tidak sengaja tertinggal. Mungkin milik rekan kerja. Mungkin—astaga… tapi kenapa harus disimpan di saku jasnya?’
Pikiranku langsung dipenuhi berbagai kemungkinan yang ingin kutolak mentah-mentah.
Dengan tangan gemetar, aku buru-buru merapikan sisa pakaian, meski pikiranku sudah tidak lagi ada di sana. Setelah selesai, aku melangkah cepat kembali ke kamar sambil menggenggam alat itu erat-erat.
Aku duduk di tepi tempat tidur sambil merenung. Dadaku rasanya sangat sesak.
‘Apa aku tanya langsung sama Mas Aji aja? Atau diam dulu sambil mencari tahu? Tapi… gimana kalau semua ini hanya salah paham? Gimana kalau Mas Aji menyangka aku menuduhnya yang nggak-enggak?’
Aku menarik napas dalam, lalu menundukkan kepala.
‘Gimana… kalau ketakutanku selama ini jadi kenyataan?’
Aku langsung menggeleng keras, berusaha mengusir pikiran itu.
Selama ini aku selalu berusaha menjadi istri yang baik. Aku percaya pada pernikahan kami, percaya pada Aji, percaya bahwa rumah tangga yang kami bangun akan baik-baik saja.
Tapi sialnya, benda kecil di tanganku ini seolah sedang mengejek dan menertawakan semua keyakinan itu.
Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri.
Aku butuh jawaban.
Dan kali ini, aku tidak bisa terus berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Baru saja aku hendak bangkit untuk menyembunyikan alat tes kehamilan itu, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah kamar. Disusul suara Aji yang sedang berbicara melalui ponselnya.
Refleks, aku menyelipkan alat tes kehamilan itu ke bawah bantal, lalu buru-buru berbaring dan memejamkan mata, pura-pura tidur.
Jantungku berdetak begitu keras sampai aku takut suaranya bisa terdengar.
Aku menahan napas, berusaha fokus pada percakapan di luar sana.
Lalu, suara itu terdengar jelas.
“Aku akan bertanggung jawab. Jadi tolong, rahasiakan ini dari siapa pun… termasuk mantan suamimu, dan juga Venus.”
Dunia seakan berhenti berputar. Tubuhku membeku.
Aku bahkan lupa bagaimana caranya bernapas.
Kalimat itu menghantamku jauh lebih keras daripada dua garis merah tadi.
Ini sudah bukan prasangka lagi, bukan ketakutan yang berlebihan, bukan juga pikiranku yang terlalu liar.
Ini nyata.
Suamiku benar-benar mengkhianatiku.
***