Menjadi Suami Istri

1656 Kata
“Lebih baik aku menjual diriku daripada harus menikahimu!” Celia membentak, dadanya naik turun dengan cepat, menahan amarah yang mendidih. Wajahnya yang cantik kini dipenuhi rona kemarahan dan keputusasaan. Alex, di hadapannya, tertawa kecil. Suaranya rendah dan tajam, sedingin kristal es yang mematikan. “Memang berapa hargamu, Celia?” Alex melangkah maju, perlahan, seolah sedang mengamati buruan yang terperangkap. “Kau memang cantik,” lanjutnya, tatapannya menghunus, seolah bisa melihat sampai ke dasar jiwa Celia. “Tapi latar belakangmu sebagai mantan pembunuh pasti akan menurunkan nilai pasarmu, kan? Apa kau akan mengumpulkan uang receh dan menunggu ibumu keburu mati?” Ejekan itu menusuk telinga Celia, membuat darahnya terasa panas. Alex tidak hanya merendahkannya, tetapi juga menyerang satu-satunya orang yang ia cintai. “Kau b******k, Alex!” PLAK! Tanpa berpikir, Celia mengayunkan tangannya. Namun, Alex terlalu cepat. Ia menangkis pergelangan tangan Celia dengan gerakan mantap, lalu mencengkeramnya kuat-kuat. Detik berikutnya, ia menarik tubuh Celia hingga merapat ke tubuhnya. Lengan Alex yang satu melingkar posesif di pinggangnya, menjebak Celia sepenuhnya. Napas Alex terasa hangat di dekat telinganya. Celia seketika memalingkan wajah, berusaha mati-matian menghindari tatapan mengintimidasi itu. “Aku memang akan membangun neraka baru untukmu jika kau jadi istriku,” bisik Alex, suaranya berat dan berbahaya, sambil mencondongkan wajahnya hingga napasnya menerpa pipi Celia. “Tapi setidaknya kau bisa menyelamatkan nyawa ibumu.” “Lepaskan aku!” Celia memberontak, mengerahkan tenaga putus asa. “Apa kau masih belum mengerti situasi dan posisimu di dunia ini?” Alex berbisik dingin. “Semua orang akan menolakmu. Dunia ini sudah menolakmu, Celia. PEMBUNUH!” Kata terakhir itu ia ucapkan dengan penekanan yang menusuk, seolah meludahinya dengan kata-kata. “Oh … sepertinya ada predikat baru yang lebih cocok untukmu, Celia …” Alex menjeda, menggantungkan ketegangan di udara. “PE-LA-CUR.” Wajah Celia memucat. Matanya memanas, tetapi ia berusaha sekuat tenaga menahan gejolak tangisnya agar tidak pecah di depan pria keji ini. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menarik napas panjang, dan membiarkan udara dingin membakar paru-parunya. “Oke …” Keputusan itu terasa pahit di lidahnya. “Aku akan mengikuti permainanmu. Kapan kita menikah? Aku butuh uang itu sekarang juga.” “Sekarang,” jawab Alex singkat. “Sekarang? Apa kau pikir menikah tinggal—” “Aku sudah booking pejabat pencatat sipil dan menjadwalkan pencatatan pernikahan di kantor Catatan Sipil. Pengacaraku juga sudah menyiapkan segala berkasnya, rekomendasi gereja dan lainya, karena aku tahu kau akan menyetujuinya, Celia,” potong Alex, senyum kemenangan tersungging di bibirnya. “Dasar licik! Kau memang b******k!” Alex seketika melepaskan cengkeramannya. Karena posisinya yang sedang memberontak, Celia terhuyung ke belakang. Ia menatap nyalang ke arah Alex, mata mereka bertemu dalam pertarungan kehendak yang mematikan. “Ikut aku. Kita ke Kantor Catatan Sipil sekarang.” Alex berbalik tanpa menunggu jawaban dan beranjak keluar dari ruangan itu, meninggalkan Celia dalam kehancuran dan dilema yang mendalam, berdiri sendiri di tengah ruangan yang terasa seperti kandang. **** Di Kantor Catatan Sipil Suara stempel terakhir berdentum. Celia merasakan dinginnya Akta Perkawinan di tangan. Di mata negara, mereka kini adalah suami istri yang sah. Di hati mereka berdua? Mereka adalah musuh yang baru saja menandatangani perjanjian perang. Alex menutup pulpennya dengan bunyi klik keras, wajahnya menunjukkan kepuasan mutlak. Mereka melangkah keluar dari lobi Kantor Catatan Sipil, disambut udara panas kota. “Transfer sejumlah uang yang belum kau lunasi, sekarang!” Hardik Celia, suaranya tajam dan bergetar. Ia tidak ingin membuang waktu sedetik pun dalam peran barunya sebagai 'istri'. Alex tertawa pelan. Ia mendekat, tangan kanannya melingkar santai di pinggang Celia, mencoba menciptakan ilusi keintiman. “Istriku, apa kau tidak mau berbulan madu dulu?” “Cepat transfer!” Celia membentak, tangannya bergerak cepat menyambar pergelangan tangan Alex, menyentak cengkeraman itu hingga terlepas dari pinggangnya. “Tenang,” balas Alex, tanpa gentar sedikit pun. Ia mengeluarkan ponsel dan menunjukkannya sekilas kepada Celia. “Sekretarisku sudah melunasi biaya operasi ibumu. Sekarang juga, ibumu sudah dipindahkan ke ruang rawat VIP. Kalau kau tidak percaya, ayo kita cek ke rumah sakit.” Alex meraih tangan Celia, berusaha menggandengnya, dan melangkah, seolah menarik tali kekang pada hewan peliharaan. “Aku bisa datang sendiri,” potong Celia dingin, melepaskan genggaman itu dengan sentakan kuat. Ia menatap tajam pada Alex, lalu pandangannya melunak sesaat saat menyebut satu nama. “Satu hal, aku mohon,” ucap Celia, merendahkan suaranya. “Jangan sampai ada yang tahu kalau kita menikah. Aku tidak mau membuat ibuku sedih.” Alex menyeringai, matanya memancarkan dendam beku. “Memangnya kau pikir, aku juga mau semua orang tahu kalau aku menikahi PEMBUNUH ibuku?” Ejekan itu keluar seperti racun. Alex mendekat, mencondongkan tubuhnya hingga Celia harus mendongak. “Aku menikahimu, hanya untuk membuatkan penjara baru untukmu, Celia.” Celia menelan ludah, menahan rasa sakit. Ia tidak menjawab, membiarkan kebencian itu memenuhi paru-parunya. Ia berbalik dan meninggalkan Alex begitu saja. “Hei, Celia!” Alex berseru dengan nada sedikit lantang, suaranya mengejar punggung Celia yang menjauh. “Nanti aku akan menjemputmu. Mulai hari ini, kau harus pindah ke penjara baru yang sudah aku siapkan untukmu!” **** Di Rumah Sakit Celia langsung menuju konter administrasi, napasnya masih terengah-engah setelah bergegas turun dari ojek online. Dengan suara yang dikontrol agar tidak terdengar panik, ia menanyakan lokasi kamar VIP baru ibunya. Begitu informasi didapat, Celia bergegas menyusuri koridor rumah sakit, hatinya dipenuhi campuran lega dan cemas. Ia mencapai pintu kamar yang dimaksud. Tangan Celia gemetar saat meraih kenop, lalu mendorong pintu itu terbuka perlahan. Pandangan Celia langsung terfokus pada ranjang di tengah ruangan. Ibunya tampak lebih baik, bersandar dengan nyaman di bantal putih tebal. Namun, yang membuat langkah Celia terhenti adalah sosok laki-laki muda yang duduk di samping ranjang. “Dimas?” Gumam Celia tak percaya, melangkah masuk. Ibunya tersenyum lemah, suaranya pelan tapi terdengar lebih kuat dari sebelumnya. “Celia, Dimas sudah menunggumu sejak tadi, Nak.” Mendengar namanya disebut, Dimas langsung beranjak dari duduknya. Ia adalah laki-laki yang Celia kenal baik, teman SMA-nya—namun kini, ada kerutan khawatir yang tersirat di antara alisnya. Dimas maju dan meraih tangan Celia, menyalaminya dengan genggaman yang sedikit terlalu erat. “Hai, Celia,” sapa Dimas, nadanya terdengar hati-hati. “Hai, Dimas. Apa kabar?” Celia membalas basa-basi, berusaha keras mengabaikan detak jantungnya yang berpacu. Pertanyaan itu terasa hampa, mengingat situasi mereka. Ekspresi Dimas berubah muram, matanya menunjukkan rasa bersalah. “Aku baik. Maaf, aku tidak tahu kalau kau sudah bebas, Celia.” Celia menarik napas, berusaha menutupi kecanggungan yang menjalari udara di antara mereka. “Tidak apa-apa. Memang jadwal kebebasanku dipercepat dua bulan, wajar kalau kau tidak tahu.” Flashback: 10 Tahun Lalu … Di sebuah gudang tua sekolah yang berdebu dan remang-remang. Bau apek dan lembap menusuk hidung. Celia remaja, masih mengenakan seragam putih abu-abu, meringkuk di sudut, matanya membesar ketakutan. “Buka bajunya!” teriak Silvi, siswi yang dikenal paling arogan di angkatan itu, suaranya melengking tajam. “Jangan … jangan! Tolong … Vi …” Celia merengek, memohon ampun dengan suara tercekat. Kedua tangan Celia dipegang erat oleh dua siswi lain, menjebaknya. Celia merasakan air mata mulai membasahi pipinya. “Kau tahu Celia,” Silvi menyeringai, matanya dingin. “Pakaian yang kau kenakan ini pasti hasil korupsi bapakmu, kan?” Tanpa aba-aba, Silvi langsung menarik dan membuka kancing baju Celia satu per satu. Saat kemeja itu terlepas, Silvi mengeluarkan pisau lipat kecil dari sakunya. Srak! Srak! Ia merobek kain seragam itu menjadi potongan-potongan tak berbentuk. Sekelompok siswi lain yang mengerumuni mulai melempari Celia. Bau amis dan busuk langsung menyengat saat telur-telur busuk menghantam bahu dan rambutnya. Celia hanya bisa meringkuk, berusaha menutupi tubuh bagian atasnya yang kini terekspos. “Hahahaha!” Tawa mereka terdengar renyah, penuh ejekan dan hinaan, memantul-mantul di dinding gudang yang sunyi. BRAKK! Pintu gudang itu didobrak, terbuka dengan paksa, menabrak dinding dan menciptakan suara menggelegar. “Apa-apaan kalian?!” Dimas berdiri di ambang pintu, seragamnya kusut, napasnya memburu. Matanya yang gelap memancarkan amarah yang membara. Melihat Dimas, gerombolan siswi itu langsung panik. Dengan tergopoh-gopoh dan saling dorong, mereka bubar dan melarikan diri, meninggalkan bau busuk dan kekacauan. Dimas tidak mengejar mereka. Tatapannya hanya tertuju pada Celia. Dengan terburu-buru, ia melepas kemeja seragam putih miliknya, menyisakan kaos polos berlengan pendek di tubuhnya. Ia berjalan beberapa langkah, lalu berjongkok dan mengulurkan kemejanya ke arah Celia tanpa sedikit pun menoleh, menghormati privasi Celia yang rapuh. “Pakailah ini, Celia,” ucap Dimas. Suaranya lembut, penuh perhatian, kontras dengan amarahnya sesaat lalu. “Te-terima kasih …” Dengan tangan gemetar, Celia meraih kemeja itu. Flashback itu tertutup. Celia kembali pada realitas rumah sakit yang hening, menatap Dimas yang berdiri di hadapannya. “Dimas … andai kau muncul lebih awal,” gumam Celia dalam hati, sebuah rasa sesal menusuk tajam. “Kau pasti akan membantuku, dan … aku tidak harus menikah dengan Alex.” Malam perlahan merayap, menyelimuti area parkiran rumah sakit dengan cahaya remang-remang lampu jalan. Celia mengantar Dimas menuju mobilnya. Sepanjang jalan, mereka bercengkerama ringan, berbagi tawa kecil yang renyah dan tulus. Nada suara mereka santai, seolah waktu sepuluh tahun yang penuh penderitaan tak pernah terjadi. Di dekat Dimas, Celia bisa sejenak melupakan statusnya sebagai 'istri' dan 'pembunuh'—hanya menjadi dirinya sendiri, seorang teman lama. Mereka berhenti tepat di sisi pintu mobil Dimas. “Terima kasih sudah datang, Dimas,” ucap Celia, senyum tipis masih menghiasi bibirnya. “Tentu saja aku datang, Celia, aku selalu di pihakmu” balas Dimas, tatapannya hangat. Suasana damai dan keakraban itu begitu nyata. Namun, kedamaian itu memiliki saksi yang membara. Tak jauh dari sana, tersembunyi dalam bayangan mobil mewah berwarna gelap, Alex duduk di kursi penumpang. Ia tidak bergerak. Matanya yang tajam melotot penuh amarah ke arah Celia dan Dimas. Jarak itu tak menghalangi Alex untuk melihat tawa Celia, tawa yang belum pernah ia lihat sejak mereka bertemu. Tawa itu, dan kedekatan mereka, menyulut api dendam Alex. Cengkeraman tangan Alex pada sebuah ponsel tablet yang ia pegang menguat hingga buku-buku jarinya memutih, rahangnya mengeras. Reza, sekretarisnya yang duduk di sampingnya bergidik ngeri melihat ekspresi marah sang majikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN